Amien Widodo: Mitigasi Nasional Hadapi Risiko Tanah Bergerak
- 14 Feb 2026 21:11 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Fenomena tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, dan Kelurahan Jangli, Kota Semarang menegaskan urgensi mitigasi nasional. Peneliti Senior MKPI ITS ikut mengomentari dampak hujan deras berkepanjangan pada permukiman warga.
Amien Widodo menjelaskan tanah bergerak bagian gerakan tanah berpotensi longsor. “Tanah bergerak adalah perpindahan massa tanah atau batuan dari posisi semula,” katanya, Sabtu, 14 Februari 2026.
Di Desa Padasari, lima dukuh terdampak dengan total 860 rumah berada dalam kawasan risiko. Ratusan rumah rusak, sementara kejadian di Kota Semarang memaksa warga mengungsi ke musala terdekat.
Pengamatan Badan Riset dan Inovasi Nasional mencatat puluhan kejadian tanah bergerak pada awal 2025 di berbagai wilayah. Kejadian tersebut tersebar di beberapa daerah Indonesia dan memaksa ratusan keluarga meninggalkan rumah.
Menurut Amien, perubahan tata guna lahan perbukitan dan pegunungan menjadi faktor utama meningkatnya kerentanan lereng. Pembabatan hutan menghilangkan akar pengikat tanah, sehingga air hujan mudah masuk dan memicu pergerakan tanah.
Ia menegaskan tanah bergerak memiliki tanda awal, seperti retakan tanah, bangunan rusak, serta tiang tampak miring. “Masyarakat harus segera melaporkan tanda tersebut kepada pihak berwenang untuk langkah mitigasi cepat,” katanya.
Mitigasi dan relokasi menjadi opsi penting ketika kerusakan membesar dan keselamatan warga terancam. Edukasi kebencanaan, tata ruang berbasis risiko, dan rehabilitasi hutan penting mengurangi potensi bencana mendatang.
Fenomena tanah bergerak berkaitan dengan target pembangunan berkelanjutan, terutama kota tangguh, adaptasi iklim, dan perlindungan ekosistem daratan. Upaya tersebut penting menjaga keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....