Tiga Dekade Setia, Maulana dan Gula Gending

  • 14 Feb 2026 13:12 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Pagi itu, cahaya matahari merambat di sesela pepohonan pinus di Lapangan Murjani, Banjarbaru. Di antara Langkah-langkah warga yang berolahraga, seorang lelaki sepuh duduk besila dengan sebuah wadah seng kecil disampingnya.

Tangannya yang mulai keriput tetap lincah sesekali memukul pelan, menimbulkan bunyi nyaring berirama yang akrab di telinga. Itulah tanda kehadiran Maulana (67), penjual Gula gending yang telah bertahan tabah dari tiga dekade di kota ini.

“kalau tidak dibunyikan begini, orang tidak tau saya ada disini jualan Gula Gending,” ucapnya sambil tersenyum, matanya menyipit menahan cahaya matahari yang mulai meninggi, Sabtu 14 Februari 2026.

Harga yang ia tawarkan sederhana, mulai dari Rp.5000, namun dari lembaran uang kecil inilah hidup dan harapannya bertumpu. Bila hari sedang ramah, ia bisa mambawa pulang Rp.100.000, hingga Rp.150 ribu. Tapi tak jarang ketika jualan sepi, ia hanya bisa mangelus dada.

“Namanya juga usaha, kadang ramai,kadang tidak. Yang penting saya tetap berusaha secara halal,” ucapnya pelan.

Puluhan tahun lalu Maulana meninggalkan kampung halamanya di Nusa Tenggara Barat. Bersama beberapa orang temannya, ia merantau ke Kalimantan dengan bekal keberanian dan keterampilan membuat gula gending. Ia menempati sebuah rumah bedakan di kawasan Martapura, tempat ia membangun hidup dari nol.

“Saya dulu tidak punya apa-apa, cuma tekat. Kalau tidak berani merantau, mungkin saya tidak sampai disini,” ucapnya sambil menatap jauh kedepan.

Waktu berjalan, usia bertambah, namun Maulana tetap setia pada pekerjaanya. Panas terik, hujan tiba-tiba, hingga perubahan zaman yang membuat jajanan modern kian menjamur, tidak membuatnya menyerah.

“Selama tangan dan kaki saya masih bisa bergerak, saya tidak mau berhenti,” ucapnya tegas.

Dari gula gending yang sederhana itulah, Maulana menyekolahkan anaknya sehingga perguruan tinggi. Suaranya bergetar saat mengingat masa-masa sulit membayar biaya sekolah.

“Saya hanya ingin anak-anak tidak sesusah saya. Kalau lihat dia pakai toga waktu wisuda, lelah saya seperti hilang semua,” katanya lirih.

Kini, semua irama yang ia mainkan saat menyusuri lorong-lorong jalan di kota Banjarbaru bukan sekedar panggilan pembeli. Itu adalah nada keteguhan, tentang seorang perantau yang menolak menyerah pada keadaan. Dibalik manisnya gula gending, tersimpan kisah perjuangan panjang seorang Ayah yang membuktikan bahwa dari usaha kecil dan hati yang besar, lahir masa depan yang lebih terang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....