Tari Balian Warisan Ritual Dayak Pegunungan Meratus Kuno

  • 02 Feb 2026 16:56 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Perkembangan seni tari dan seni musik dalam masyarakat dayak banyak dipengaruhi oleh kehidupan ritual dan kehidupan sehari-hari. Seperti dalam sebuah upacara adat. Unsur-unsur seni seperti seni musik, seni tari, dan seni sastra merupakan pelengkap dari  upacara-upacara tersebut. 

Menurut Hikayat Banjar, seni tari yang paling tua yang berkembang pada masyarkat Dayak di bentangan pegunungan maratus adalah Tandik Balian atau Tari Balian. Mereka menari berputar-putar mengelilingi Lalaya atau menyerupai altar yang berada ditengah-tengah balai, di iringi tabuhan gong dan gendang yang dianggap memiliki kekuatan magis.

Ragam gerak Tari Balian sangat sederhana dan monoton. Dimulai dengan mamang atau rapalan mantra sambil mengelilingi sesajen yang diletakkan di atas lalaya dengan berbagai hiasan pucuk daun enau. 

Balian kemudian bertandik atau menari menghentakkan kedua kaki dan gemerincing gelang hiyang di kedua tangan balian. Tari Balian beragam jenis dengan tujuan dan maksud yang berbeda pula. 

Tari Balian itu antara lain adalah balian pengobatan, balian membayar niat atau hajat, balian pelas tahun, dan balian syukuran hasil panen. Selain tari balian terdapat pula tarian-tarian lain, misalnya tari gintur atau giring-giring.

Tarian gintur menggambarkan gerakan orang menanam padi di ladang. Tangan kanan penarinya membawa sepotong bambu yang berisi biji-bijian yang akan ditanam. Sedangkan tangan kirinya membawa tongkat sebagai alat untuk melubangi tanah. Tarian ini biasanya ditunjukkan untuk menyambut tamu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....