Tokocrypto bersama DRX Perkuat Edukasi Web3 di Bali

  • 01 Feb 2026 08:09 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Kuta - Perkembangan teknologi Web3 saat ini tidak lagi hanya berfokus pada token sebagai instrumen finansial atau aktivitas trading semata. Web3 mulai bergerak ke fase adopsi nyata (real adoption) melalui pengembangan ekosistem yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, salah satunya di sektor sport-tech dan gaming.

Topik tersebut menjadi pembahasan utama dalam acara diskusi panel bertajuk “Web3 Game On: Real Adoption Through Sport-Tech & Community Ecosystem” yang diselenggarakan secara offline di FORK Bali, Legian, Sabtu 31 Januari 2026. Acara ini merupakan kolaborasi antara Tokocrypto, DRX Token, dan Cryptosiast, serta menghadirkan perspektif dari proyek Web3, komunitas, dan exchange sebagai enabler adopsi Web3 di Indonesia.

Diskusi panel menghadirkan tiga narasumber, yaitu Bariq Hasnan selaku Web3 Marketing Manager DRX Token, Nathanael sebagai Business Development Tokocrypto, serta Bli Pege dari Cryptosiast Community. Ketiganya membahas bagaimana Web3 dapat diimplementasikan secara nyata dan berkelanjutan, bukan sekadar menjadi tren spekulatif di pasar kripto.

Para panelis sepakat bahwa indikator keberhasilan adopsi Web3 tidak dapat diukur hanya dari volume transaksi atau hype pasar, melainkan dari seberapa relevan teknologi tersebut digunakan secara konsisten oleh pengguna dalam aktivitas sehari hari. Pengalaman yang memberikan nilai nyata, mudah diakses, dan dapat digunakan berulang kali menjadi kunci utama dalam mendorong adopsi jangka panjang.

Bariq Hasnan menjelaskan bahwa DRX Token tidak diposisikan hanya sebagai aset digital, melainkan sebagai bagian dari ekosistem sport-tech yang mengintegrasikan olahraga, mini game, dan komunitas dalam satu pengalaman terpadu. Pendekatan community-driven serta gamification diterapkan untuk menjaga keterlibatan pengguna, terlepas dari kondisi pasar kripto.

“Adopsi tidak bisa bergantung pada momentum market. Kami fokus membangun experience yang membuat pengguna tetap engaged karena utility dan pengalaman yang relevan,” jelas Bariq.

Dari sisi exchange, Nathanael menyoroti tantangan utama dalam mendorong pengguna untuk melangkah lebih jauh dari aktivitas trading menuju pemanfaatan ekosistem Web3 secara menyeluruh. Kompleksitas teknis seperti penggunaan wallet, pengelolaan private key, gas fee, hingga risiko salah jaringan dan scam masih menjadi hambatan bagi pengguna pemula.

“Mindset sebagian besar pengguna masih berorientasi pada profit jangka pendek. Padahal, Web3 menuntut partisipasi aktif dan pemahaman terhadap utility serta kepemilikan aset digital. Di m sinilah peran exchange seperti Tokocrypto menjadi penting sebagai gerbang awal yang aman sekaligus penyedia edukasi dasar Web3,” ujar Nathanael.

Sebagai exchange, Tokocrypto berperan menjembatani pengguna dari fiat ke kripto, membantu proyek Web3 menjangkau basis pengguna yang lebih luas, serta membangun kepercayaan melalui proses kurasi dan transparansi. Tokocrypto juga secara aktif mendukung literasi dan edukasi Web3 melalui berbagai kegiatan komunitas dan event offline.

Sementara itu, Bli Pege dari Cryptosiast Community menekankan bahwa keberlanjutan proyek Web3 sangat ditentukan oleh kualitas pengalaman pengguna dan kekuatan komunitas. Menurutnya, sektor gaming dan sport-tech memiliki potensi besar dalam membangun loyalitas komunitas karena menghadirkan pengalaman yang fun, interaktif, dan emosional, bukan sekadar insentif berbasis token.

Menutup diskusi, para panelis sepakat bahwa agar Web3 gaming dan sport-tech dapat benar-benar menjadi mainstream, fokus utama harus berada pada pengalaman pengguna yang seamless dan relevan. Kompleksitas teknis Web3 seharusnya berada di belakang layar, sementara nilai utama tetap pada gameplay, fan experience, dan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh pengguna.

Dalam kesempatan ini, Tokocrypto kembali menegaskan komitmennya untuk terus berperan sebagai enabler edukasi dan adopsi Web3 di Indonesia dengan mengedepankan prinsip kehati hatian, transparansi, serta imbauan kepada masyarakat untuk selalu melakukan riset mandiri (DYOR). Seluruh diskusi yang disampaikan dalam acara ini bukan merupakan saran investasi atau rekomendasi finansial (NFA).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....