Berpikir Positif, Hidup Lebih Bermakna

  • 30 Jan 2026 08:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Siaran Cahaya Pagi di Pro 4 RRI Surabaya, Jumat, 30 Januari 2026, mengangkat tema Berpikir Positif untuk Hidup Positif. Dalam siaran tersebut dibahas pentingnya membangun pola pikir positif dalam kehidupan sehari-hari yang dalam Islam dikenal dengan istilah husnuzan atau berprasangka baik. Narasumber Ustaz Kusairi, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Sawahan, Kemenag Kota Surabaya, menegaskan bahwa beban hidup sering kali terasa berat bukan karena masalahnya, melainkan karena pikiran yang dipenuhi prasangka buruk.

Ustaz Kusairi menjelaskan bahwa masalah yang sama akan terasa semakin menekan jika dihadapi dengan pikiran negatif. “Namun jika kita hadapi dengan iman dan pikiran positif, insyaallah justru akan mendewasakan dan menguatkan kita semua,” ujarnya.

Menurutnya, berpikir positif bukan berarti menafikan masalah, tetapi memandangnya sebagai bagian dari proses pembelajaran hidup yang Allah berikan. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya husnuzan kepada Allah SWT. Berpikir positif kepada Allah berarti meyakini bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surah Al-Baqarah ayat 216:

‘Asaa an takrahuu syai’an wa huwa khairul lakum, wa asaa an tuhibbuu syai’an wa huwa syarrul lakum, wallaahu ya’lamu wa antum laa ta’lamuun’,

yang artinya, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang gagal dalam pekerjaan, tidak diterima kerja, atau usahanya bangkrut. Jika berpikir negatif, seseorang bisa berkata bahwa Allah tidak adil. Namun orang yang husnuzan akan berkata, “Mungkin Allah sedang menghindarkan saya dari sesuatu yang lebih buruk atau sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” tutur Ustadz Kusairi. Ia menambahkan, tidak sedikit orang baru menyadari hikmah tersebut bertahun-tahun kemudian ketika Allah menggantinya dengan kehidupan yang lebih tenang dan tenteram.

Ustaz Kusairi juga mengutip sabda Rasulullah SAW:

“Ana ‘inda zhanni ‘abdi bii, wa ana ma’ahu idza dzakaranii, fa in dzakaranii fii nafsihii dzakartuhu fii nafsii, wa in dzakaranii fii mala’in dzakartuhu fii mala’in khairin minhu”.

Artinya, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku; dan jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku mengingatnya di kumpulan yang lebih baik.” Karena itu, ia mengingatkan agar lisan dan hati tidak dipenuhi keluhan, tetapi keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah dalam memberi takdir.

Dalam kehidupan sosial, prasangka buruk juga kerap muncul, seperti saat seseorang tidak menyapa lalu dianggap sombong, atau pesan yang belum dibalas dianggap bentuk pengabaian. Padahal bisa jadi orang tersebut sedang lelah atau memiliki masalah. Allah SWT telah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:

“Yaa ayyuhalladziina aamanuu ijtanibuu katsiran minazh-zhanni inna ba’dhazh-zhanni itsmun”,

yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” Berpikir positif kepada sesama akan membuat hati lebih tenang, tidak mudah marah, dan hidup terasa lebih damai.

Ia juga mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia sering kali adalah diri sendiri melalui pikiran negatif seperti merasa tidak mampu dan putus asa. Padahal Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53:

“Qul yaa ‘ibaadiyalladziina asrafuu ‘alaa anfusihim laa taqnathuu min rahmatillaah”,

yang artinya, “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” Orang yang berpikir positif akan berkata, “Saya pernah gagal, tapi saya bisa bangkit dengan izin Allah.”

Ustaz Kusairi menyimpulkan bahwa ciri orang yang berpikir positif antara lain selalu husnuzan kepada Allah, tidak mudah mengeluh, optimis menghadapi masa depan, mampu mengendalikan emosi, serta menjadikan masalah sebagai pelajaran. Orang yang selalu husnuzan akan lebih sabar, banyak bersyukur, mudah memaafkan, dan tetap berusaha tanpa menyalahkan keadaan.

Ia pun mengajak masyarakat untuk melatih diri berpikir positif, berprasangka baik kepada Allah, sesama, dan diri sendiri agar hidup lebih berkah dan penuh harapan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....