Pengaruh Bahasa Gaul dan Bahasa Asing Terhadap Siswa

  • 24 Jan 2026 23:13 WIB
  •  Makassar

RRI.CO.ID, Makassar - Maraknya penggunaan bahasa gaul dan bahasa asing di lingkungan sekolah dinilai memiliki pengaruh signifikan terhadap minat siswa dalam mempelajari dan menggunakan bahasa daerah. Fenomena ini menjadi tantangan serius dalam upaya pelestarian bahasa daerah, khususnya di kalangan generasi muda.

Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Jabaruddin, S.Pd., M.Pd, selaku Pengawas Bina SMP sekaligus Pembina PPBDI (Perkumpulan Pendidik Bahasa Daerah Indonesia) Kabupaten Maros, saat obrolan Apresiasi Budaya Lokal di Pro 4 RRRI Makassar, Jumat, 23 Januari 2026. Menurutnya penggunaan bahasa gaul dan bahasa asing sebenarnya tidak sepenuhnya berdampak negatif.

Namun, jika tidak diimbangi dengan penguatan bahasa daerah, maka perlahan dapat menggerus identitas kebahasaan siswa. “Bahasa gaul dan bahasa asing berkembang seiring kemajuan zaman dan teknologi. Ini wajar. Tetapi yang perlu diwaspadai adalah ketika bahasa daerah mulai dianggap kuno, tidak keren, atau tidak relevan oleh siswa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa di lingkungan sekolah, bahasa Indonesia sering menjadi bahasa pengantar utama, sementara bahasa asing seperti Inggris mulai mendapat porsi lebih besar karena tuntutan globalisasi. Di sisi lain, bahasa daerah justru semakin jarang digunakan, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun dalam kegiatan pembelajaran.

“Minat siswa mempelajari bahasa daerah cenderung menurun karena kurangnya ruang praktik. Padahal, bahasa daerah bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana pewarisan nilai, budaya, dan karakter,” tambahnya.

Dr. Jabaruddin menekankan pentingnya peran sekolah dan guru dalam menumbuhkan kembali kebanggaan berbahasa daerah. Ia mendorong agar pembelajaran bahasa daerah tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dikemas secara kontekstual dan menarik, misalnya melalui cerita rakyat, seni pertunjukan, sastra lisan, hingga pemanfaatan media digital.

“Bahasa daerah harus dihadirkan sebagai sesuatu yang hidup dan relevan dengan dunia siswa. Jika dikemas kreatif, justru bisa bersanding dengan bahasa gaul dan bahasa asing tanpa harus saling meniadakan,” jelasnya.

Selain itu, dukungan orang tua dan lingkungan masyarakat juga dinilai sangat penting. Penggunaan bahasa daerah dalam keluarga dan kegiatan sosial akan membantu siswa merasa lebih akrab dan percaya diri dalam menggunakannya. Sebagai Pembina PPBDI Maros, Dr. Jabaruddin berharap adanya sinergi antara pemerintah, sekolah, dan komunitas bahasa untuk menjaga eksistensi bahasa daerah di tengah arus modernisasi.

“Melestarikan bahasa daerah bukan berarti menolak kemajuan, tetapi menjaga jati diri bangsa agar tidak hilang oleh zaman,” pungkasnya.

Dengan upaya bersama dan kesadaran kolektif, penggunaan bahasa gaul dan bahasa asing diharapkan dapat berjalan seimbang dengan pelestarian bahasa daerah, sehingga generasi muda tetap berakar pada budaya lokal sekaligus siap menghadapi dunia global.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....