Cuaca Ekstrem, Petani Pandeglang Terancaman Gagal Panen

  • 17 Jan 2026 16:01 WIB
  •  Banten

RRI.CO.ID, Pandeglang: Intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Pandeglang dalam sepekan terakhir mulai memicu keluhan oleh para petani. Soalnya tanaman mereka banyak yang rusak sehingga menimbulkan potensi gagal panen.

Seorang petani sekaligus pedagang asal Desa Mandalawangi, Ana mengungkapkan, curah hujan yang tidak menentu menjadi penghalang utama dalam proses perawatan tanaman hortikultura seperti mentimun dan terong. Masalah mendasar terletak pada tidak maksimalnya fungsi obat-obatan pertanian akibat tersapu air hujan sebelum terserap sempurna oleh tanaman.

"Hujan itu berpengaruh. Biasanya kan harusnya dipetiknya lama, jadi sebentar. Kalau kerugian mah tidak, cuma hanya kembali modal aja," kata Ana, Sabtu, 17 Januari 2026.

Baca juga: Dilanda Kekeringan, 341 Hektare Sawah di Pandeglang Terancam Gagal Panen

Ana menyebutkan, penggunaan obat-obatan atau pestisida menjadi tidak maksimal karena cairan kimia tersebut seringkali tersapu air sebelum terserap sempurna oleh tanaman. Akibatnya, tanaman timun dan terong tetap terserang hama hingga menyebabkan pembusukan pada bagian buah maupun batang tanaman.

Ana menegaskan, fenomena ini merupakan kejadian berulang setiap kali memasuki musim penghujan, yang mana biaya operasional yang dikeluarkan tidak sebanding dengan kualitas hasil panen. Masa petik yang seharusnya bisa berlangsung dalam durasi lama terpaksa menyusut drastis. Dampak dari gagalnya fungsi pestisida ini membuat ia dan para petani lain harus menelan pil pahit karena hanya mampu mencapai titik impas atau balik modal.

Kondisi serupa juga dialami petani di Cisata. Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Cisereh, Agus Rustandi, melaporkan sekitar 60 hingga 70 persen dari total 400 hektare lahan persawahan di wilayahnya terendam air. Banjir akibat luapan debit hujan ini merendam tanaman padi yang rata-rata berada pada usia kritis, yakni 40 hingga 60 Hari Setelah Tanam (HST).

Baca juga: Tergenang Banjir, Lahan Pertanian Pandeglang Terancam Gagal Panen

"Walaupun tidak gagal (total), cuma hasil produksinya sangat minim. Jadi istilah kami mah balik modal saja syukur," ujarnya.

Agus mengatakan, meski sebagian petani mungkin tidak mengalami gagal panen total, penurunan produktivitas dipastikan terjadi secara drastis. Serupa dengan sektor hortikultura, para petani padi kini hanya berharap dapat mengembalikan modal awal di tengah ancaman kerusakan tanaman. Kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp5 juta hingga Rp7 juta per hektare, mencakup biaya traktor, pembelian pupuk, hingga ongkos tenaga kerja.

"Para petani membutuhkan langkah konkret pasca-bencana, terutama terkait ketersediaan sarana produksi. Adanya bantuan bibit maupun pendampingan teknis dinilainya sangat krusial untuk bisa memulihkan masa tanam yang terganggu banjir," ucap dia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....