Tergenang Banjir, Lahan Pertanian Pandeglang Terancam Gagal Panen
- 21 Des 2025 16:48 WIB
- Banten
KBRN, Pandeglang: Tingginya intensitas curah hujan di wilayah Kabupaten Pandeglang mengakibatkan Sungai Cilemer meluap dan merendam rumah serta lahan pertanian di sejumlah desa di Kecamatan Patia. Kondisi ini tidak hanya memicu kekhawatiran terkait kerusakan pemukiman, tetapi juga mengancam sektor pertanian, khususnya para petani yang terancam mengalami gagal panen total.
Salah satu wilayah terdampak cukup parah adalah Desa Ciawi, Kecamatan Patia. Luapan air sungai dilaporkan telah merendam persawahan warga selama beberapa hari terakhir. Akibatnya, mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani kini hanya bisa pasrah melihat tanaman padi mereka membusuk akibat terendam air.
Seorang petani setempat, Nasir mengatakan banjir menyebabkan tanaman padi rusak, terutama di area persawahan dengan kontur lebih rendah. Ia menyebut padi yang sudah memasuki fase menguning masih bisa diselamatkan, namun tanaman yang masih muda mengalami kerusakan parah.
Baca juga: Pandeglang Siaga Banjir dan Longsor
“Kalau yang sudah menguning masih mending. Tapi yang baru rampak, habis,” katanya, Minggu (21/12/2025).
Nasir menyebut sekitar 10 hektare lahan persawahan terdampak banjir di wilayah tersebut. Menurutnya, sawah terendam air selama empat hari empat malam, sehingga padi yang belum kuat akarnya hancur.
Dari sisi kerugian, Nasir memperkirakan nilai kerugian cukup besar yaitu 30 juta, mencakup biaya pengolahan lahan, bibit, pupuk, dan traktor. Menurutnya kerugian tersebut membuat pera petani kehilangan hasil panen yang seharusnya bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca juga: Banjir di Pandeglang Rendam 5.664 Hektare Lahan Sawah
“Kalau saya kisaran kerugiannya sekitar 25 sampai 30 juta. Hampir tiap tahun gagal panen karena banjir,” ujarnya.
Hal serupa dialami petani lain, Nano, sekitar 2,5 hektare lahan pertanian miliknya terendam banjir dengan ketinggian air hampir dua hingga dua setengah meter. Menurutnya gagal panen karena bencana ini telah menjadi siklus tahunan yang membuat para petani hanya bisa pasrah.
“Kalau yang sudah menguning masih mending. Tapi yang baru rampak, habis,” katanya.
Baca juga: Sekolah Terdampak Banjir di Pandeglang Diimbau Belajar Online
Nano mengaku sudah terbiasa menghadapi gagal panen berulang kali akibat banjir, sehingga rasa takut akan kerugian finansial mulai terkikis oleh kenyataan pahit di lapangan. Kendati demikian, kenaikan biaya produksi yang tidak sebanding dengan hasil panen membuat perekonomian para petani lain semakin rentan, terutama saat menghadapi siklus banjir tahunan.
Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD-PK Kabupaten Pandeglang, Acep Firmansyah mengungkapkan, cuaca ekstrem yang melanda wilayah hulu Sungai Cilemer menjadi penyebab utama banjir yang merendam sejumlah titik. Menurutnya, curah hujan yang sangat tinggi mengakibatkan debit air meluap secara luas ke pemukiman dan lahan pertanian.
Acep menjelaskan bahwa kapasitas drainase yang ada saat ini tidak lagi mampu menampung debit air yang melimpah. Hal ini diperparah dengan kondisi geografis Pandeglang yang memiliki banyak aliran sungai, sehingga fluktuasi air di hulu secara langsung mengancam wilayah hilir, termasuk merusak lahan pertanian milik warga.
"Kami mengimbau warga untuk selalu waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di bantaran sungai. BPBD-PK akan terus bersiaga untuk melakukan langkah-langkah darurat jika debit air kembali meningkat secara signifikan," ucap Acep. (Ridwan Maulana)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....