I’tikaf, Berdiam Bersama Allah, Bangkit Menghadapi Kehidupan
- 15 Mar 2026 17:06 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nunukan: Momentum sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadan menjadi waktu yang sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk memperbanyak ibadah, salah satunya dengan melaksanakan i’tikaf. Hal ini disampaikan oleh Ustaz H. Nurdin Sade, M.Pd., dalam program Dialog Ramadan RRI Nunukan yang membahas topik “I’tikaf, Berdiam Bersama Allah, Bangkit Menghadapi Kehidupan.”
Ustaz Nurdin menjelaskan bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sunnah muakkad, yakni sangat dianjurkan untuk dilakukan, terutama pada malam-malam terakhir Ramadan.
Menurutnya, i’tikaf bermakna berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam praktiknya, i’tikaf diisi dengan berbagai bentuk ibadah seperti berdzikir, berdoa, membaca Al-Qur’an, mengikuti kajian keislaman, hingga melakukan perenungan diri.
“I’tikaf menjadi momen istimewa bagi seorang muslim untuk benar-benar fokus beribadah kepada Allah SWT. Ketika berada di masjid, kita lebih mudah mengarahkan hati dan pikiran untuk mendekatkan diri kepada-Nya,” jelasnya, Minggu (15/3/2026).
Ia menambahkan, terdapat banyak hikmah yang dapat dirasakan dari ibadah i’tikaf. Pertama, suasana masjid membantu seseorang meningkatkan fokus dalam beribadah tanpa terganggu oleh kesibukan dunia.
Kedua, i’tikaf menumbuhkan rasa kedekatan dan kerinduan kepada Allah SWT. Dengan memperbanyak dzikir dan doa, hati seorang muslim akan semakin terhubung dengan Sang Pencipta.
Selain itu, i’tikaf juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan refleksi diri. Seseorang dapat merenungkan sejauh mana kualitas ibadah yang telah dilakukan serta melakukan evaluasi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Hikmah lainnya adalah kemampuan mengendalikan hawa nafsu. Dengan membiasakan diri berada dalam suasana ibadah, seseorang akan lebih mudah menata hati dan perilakunya,” ujarnya.
Lebih jauh, Ustaz Nurdin mengatakan bahwa i’tikaf juga menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam. Ketika seorang hamba “bermesraan” dengan Allah melalui ibadah yang khusyuk, hubungan dengan sesama manusia pun akan semakin baik karena hati menjadi lebih lembut dan penuh ketenangan.
Ia menjelaskan bahwa i’tikaf umumnya dilaksanakan pada malam hari. Pada waktu tersebut, seorang muslim seakan meninggalkan kesibukan dunia untuk fokus pada kehidupan ukhrawi. Sementara pada siang hari, umat Islam tetap menjalankan aktivitas duniawi dengan penuh tanggung jawab.
Hal ini selaras dengan pesan dalam Surah Al-Jumu’ah yang mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan aktivitas kehidupan.
“Dalam Al-Qur’an disebutkan, apabila salat telah ditunaikan maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah karunia Allah sebanyak-banyaknya agar kita menjadi orang yang beruntung,” tuturnya.
Melalui ibadah i’tikaf, umat Islam diharapkan mampu memperkuat hubungan dengan Allah SWT sekaligus bangkit menjalani kehidupan dengan semangat spiritual yang lebih baik setelah Ramadan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....