Makna Nuzulul Quran Bukan Sekadar Seremonial

  • 11 Mar 2026 15:06 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Peringatan Nuzulul Quran setiap bulan Ramadan sering kali hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial. Padahal, peristiwa turunnya Al-Qur’an memiliki makna yang jauh lebih mendalam bagi kehidupan umat Islam.

Guru Besar Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Abdul Basit mengatakan, secara bahasa Nuzulul Quran berarti turunnya Al-Qur’an yang terjadi pada bulan Ramadan. Prof. Basit menjelaskan para ulama yang paling masyhur menyebutkan bahwa wahyu pertama turun pada 17 Ramadan, yakni Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5.

“Al-Qur’an turun pada bulan Ramadan. Para ulama yang paling masyhur menyebutkan bahwa wahyu pertama turun pada tanggal 17 Ramadan, yaitu Surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5,” ucapnya dalam Podcast Nastar (Nasihat Ramadan) Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto.

Menurut Prof. Basit, makna paling mendasar dari Nuzulul Quran bukan sekadar memperingati turunnya wahyu, tetapi bagaimana manusia mampu memfungsikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ia menegaskan dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kitab suci tersebut merupakan hudan linnas atau petunjuk bagi manusia sekaligus bayyinat minal huda wal furqan sebagai penjelas kebenaran dan pembeda antara yang benar dan yang batil.

“Makna paling penting dari Nuzulul Quran adalah bagaimana Al-Qur’an itu benar-benar dijadikan petunjuk dalam kehidupan kita,” ujarnya.

Prof. Basit menilai salah satu penyebab peringatan Nuzulul Quran sering berhenti pada kegiatan simbolik adalah karena minat umat Islam untuk mendalami Al-Qur’an masih rendah. Banyak orang hanya membaca Al-Qur’an tanpa berusaha memahami makna yang terkandung di dalamnya.

Ia juga menyoroti fenomena generasi muda di era digital yang cenderung menyukai informasi singkat dan instan. Kondisi ini membuat proses pendalaman Al-Qur’an yang membutuhkan keseriusan dan waktu menjadi kurang diminati.

“Generasi sekarang cenderung menyukai konten yang cepat seperti video pendek atau podcast singkat. Sementara memahami Al-Qur’an membutuhkan kesabaran dan kesungguhan,” ungkapnya.

Prof. Basit menekankan pentingnya tadabur atau merenungkan dan memahami kandungan ayat-ayat Al-Qur’an agar kitab suci tersebut benar-benar memberikan dampak dalam kehidupan. Menurutnya, interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya membaca, tetapi juga mencakup membaca, menghafal, mentadaburi, mengamalkan, dan mendakwahkan.

“Kalau hanya membaca tanpa memahami maknanya, maka dampaknya akan sangat terbatas,” ucap Prof. Basit.

Dalam momentum Ramadan, banyak umat Islam berlomba-lomba mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali. Meski bernilai ibadah, ia mengingatkan agar umat Islam tidak melupakan aspek pemahaman terhadap ayat-ayat yang dibaca.

“Lebih baik membaca satu ayat lalu dipahami dan direnungkan maknanya, daripada membaca banyak tetapi tidak mengerti pesan yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Ia juga mendorong umat Islam memulai dari surah-surah pendek dalam Juz Amma yang banyak berisi penguatan akidah dan keimanan. Selain itu, Ramadan sebaiknya dimanfaatkan sebagai momentum untuk membuat target spiritual yang jelas.

Melalui cara tersebut, seseorang dapat mengevaluasi apakah Ramadan yang dijalani benar-benar membawa perubahan dalam dirinya. Penghayatan terhadap Al-Qur’an juga diyakini mampu memberikan pengalaman spiritual yang kuat sebagaimana kisah Umar bin Khattab yang tersentuh setelah memahami ayat-ayat Al-Qur’an.

Di akhir dialog, Prof. Basit berharap generasi muda menjadikan peringatan Nuzulul Quran sebagai momentum untuk memperkuat hubungan dengan Al-Qur’an. Ia mengajak umat Islam tidak hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....