I’tikaf Jadi Momentum Menenangkan Hati di Akhir Ramadan

  • 09 Mar 2026 13:34 WIB
  •  Mamuju

RRI.CO.ID, Mamuju - Ibadah i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Melalui i’tikaf, umat Islam diajak sejenak meninggalkan kesibukan dunia untuk memusatkan hati dan pikiran kepada ibadah.

Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Mamuju dalam Renungan Ramadan di RRI Mamuju Ustas Sadikin menjelaskan, i’tikaf merupakan kesempatan bagi seorang hamba untuk menemukan ketenangan hati di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kehidupan modern sering membuat manusia larut dalam urusan dunia hingga lupa menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan Allah.

“I’tikaf adalah saat ketika seorang hamba menarik dirinya dari kesibukan dunia, lalu memusatkan hatinya hanya kepada Allah SWT,” ujar Ustas Sadikin, Senin 9 Maret 2026.

Ia mengatakan, Ramadan sejatinya merupakan perjalanan spiritual yang dimulai dari menahan lapar dan dahaga, memperbanyak amal ibadah, hingga mencapai puncaknya pada sepuluh malam terakhir.

Pada waktu inilah umat Islam dianjurkan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah termasuk i’tikaf.

“I’tikaf menjadi kesempatan bagi kita untuk menenangkan hati, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan merenungkan perjalanan hidup kita,” katanya.

Ustas Sadikin juga mengingatkan bahwa ketenangan sejati tidak ditemukan pada harta, jabatan, ataupun kesenangan dunia. Ketenangan itu, kata dia, hanya dapat diraih ketika hati dekat dengan Allah SWT.

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang,” tuturnya mengutip makna Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d ayat 28.

Ia menambahkan, Rasulullah SAW juga mencontohkan pentingnya i’tikaf dengan selalu melaksanakannya pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga akhir hayat beliau. Hal ini menunjukkan bahwa i’tikaf merupakan ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.

Menurutnya, i’tikaf juga menjadi waktu terbaik bagi umat Islam untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri. Kesunyian di masjid memberikan ruang bagi setiap orang untuk merenungkan amal ibadah dan memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

Melalui renungan tersebut, Ustas Sadikin mengajak umat Islam memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan memperbanyak ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ia berharap momentum tersebut dapat membawa umat Islam meraih kemuliaan malam Lai latul Qadar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....