Tantangan Kala Mencari Takjil di Eropa
- 07 Mar 2026 20:29 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Menjalankan ibadah Ramadan di negeri minoritas Muslim menghadirkan tantangan batin tersendiri bagi para perantau. Hal ini dirasakan oleh Muhammad Zaki Fahmi, mahasiswa Master Kimia di University of Bonn, yang harus beradaptasi dengan suasana Ramadan yang jauh berbeda dengan kampung halamannya di Yogyakarta.
Bonn, kota yang pernah menjadi ibu kota Jerman Barat, kini menjadi saksi bisu perjuangan mahasiswa Indonesia dalam menjaga tradisi keagamaan di tengah kesibukan akademik.
Bagi Zaki, Ramadan di Jerman terasa jauh lebih sunyi. Tidak ada gema azan dari pengeras suara masjid, tidak ada keramaian tradisi ngabuburit, hingga absennya deretan penjual takjil yang biasanya menghiasi setiap sudut jalan di Indonesia.
"Suasana di luar terlihat biasa saja, seakan ini hari biasa. Tapi justru di situlah tantangan dan keindahannya," ujarnya. Meski demikian, ia memuji sikap toleransi masyarakat Jerman yang sangat menghargai pilihannya untuk berpuasa, bahkan di lingkungan kampus sekalipun.
| Baca juga: Ramadan di Negeri Paman Sam |
Tanpa adanya "war takjil" ala Indonesia, Zaki mencari keberkahan Ramadan dengan berkunjung ke masjid-masjid komunitas internasional. Di Bonn dan sekitarnya, terdapat dua komunitas besar yang menjadi tujuan utama:
Komunitas Arab: Menyajikan ceramah dalam dua bahasa (Arab dan Jerman) serta menu berbuka khas Timur Tengah seperti nasi kebuli.
Komunitas Turki: Mengingat populasi warga Turki yang besar, masjid-masjid mereka—termasuk masjid terbesar di Jerman yang terletak di kota Köln—menjadi pusat kegiatan dengan menu andalan sup korba dan roti.
Puncak kehangatan Ramadan bagi Zaki justru ditemukan dalam pertemuan rutin yang diadakan oleh Indo Muslim Bonn (IMB). Komunitas ini menyelenggarakan buka puasa bersama setiap hari Sabtu yang menjadi obat rindu paling ampuh bagi para mahasiswa.
Dalam acara tersebut, suasana mendadak berubah layaknya berada di Yogyakarta. Berbagai hidangan autentik Nusantara tersaji meja makan, mulai dari:
Kue Putu dan Klepon.
Bakso dan Soto.
Pempek dan aneka makanan khas lainnya.
"Rasanya seperti teleportasi, Yogyakarta tiba-tiba pindah sebentar ke Bonn," katanya. Selain berbagi makanan, kegiatan ini juga diisi dengan kajian keagamaan dan salat tarawih berjamaah, memberikan keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan sosial bagi para perantau.
Melalui pengalaman ini, Zaki menyadari bahwa meskipun raganya berada di jantung Eropa, jiwa dan seleranya tetaplah Indonesia. Ramadan di Jerman mungkin tidak semeriah di tanah air, namun kesunyiannya justru mempererat ikatan persaudaraan sesama Muslim lintas bangsa.
(Kontributor Muslimat NU DIY:Muhammad Zaki Fahmi, Master Of Chemistry, Universitat, Bonn, Jerman)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....