Ramadan dan Pertaruhan Iman Generasi Digital
- 05 Mar 2026 11:02 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Kesalehan bukan hanya soal rutinitas bangun sahur, menahan lapar, lalu salat tepat waktu. Lebih dari itu, Ramadan adalah ruang pembenahan hati. Di bulan inilah, kualitas iman diuji: apakah ibadah yang dijalani benar-benar melahirkan kekhusyukan dan ketenangan jiwa, atau sekadar menjadi agenda tahunan yang berulang.
Hal itu disampaikan H. Moch Taufiqurrahman, Direktur Madrasah Istiqlal, dalam program Syiar Ramadan di 91,2 FM Pro 1 RRI Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026. Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Alam ya’ti lilladzina amanu an takhsya’ qulubuhum lidzikrillah”, yang mengingatkan bahwa waktu panjang untuk beribadah seharusnya membuat hati semakin tunduk dan khusyuk.
Menurutnya, Ramadan bukan momentum sehari dua hari, melainkan 29 atau 30 hari penuh untuk melatih diri. “Zikir yang baik, yang meresap ke dalam kalbu, akan melahirkan kekhusyukan. Dari kekhusyukan itu lahir ketenangan jiwa, mutmainnah,” ujarnya.
Di sinilah makna integrasi spiritual, sosial, dan moral menemukan relevansinya. Spiritualitas dibangun melalui zikir, salat, dan interaksi intens dengan Al-Qur’an. Namun, nilai itu tidak berhenti pada ranah pribadi. Ia harus menjelma dalam sikap sosial dan akhlak yang nyata. Ramadan, kata dia, adalah proses pembiasaan atau habit formation. Selama 30 hari, umat Islam dilatih konsisten dalam ibadah. Bahkan setelahnya, dianjurkan menambah enam hari puasa Syawal agar kebiasaan baik itu semakin menguat.
“Kalau sudah terbiasa, insyaallah akan berlanjut. Tapi kalau setelah Ramadan merasa bebas, maka habit itu bisa hilang,” katanya.
Dalam konteks generasi muda, tantangannya kian kompleks. Generasi Z dan Alfa tumbuh di tengah arus digital yang deras. Kehidupan maya sering kali lebih dominan dibanding kehidupan nyata. Karena itu, ia menekankan pentingnya menguatkan dua relasi utama: hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia.
“Kita harus yakinkan bahwa ini kehidupan nyata. Media yang kita miliki, mulut, tangan, kaki, bukan hanya untuk dinikmati, tapi untuk disyukuri. Bentuk syukurnya adalah menguatkan ibadah,” tuturnya.
Ia menegaskan, salat menjadi fondasi utama. Mengutip sabda Rasulullah, “ash-shalatu ‘imaduddin”, salat adalah tiang agama. Konsistensi menjaga salat menjadi indikator kokohnya iman seseorang. Dari sana akan lahir generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan matang secara moral.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....