Hangatnya Ramadan di tengah Cuaca Dingin Kanada

  • 02 Mar 2026 09:48 WIB
  •  Yogyakarta

RRI.CO.ID, Yogyakarta – Menjalani ibadah puasa di wilayah Amerika Utara memberikan tantangan sekaligus kesan mendalam bagi para diaspora Indonesia. Di Montreal, kota yang terletak di bagian timur Kanada dan sering dijuluki sebagai "Negara Kutub", komunitas Muslim tetap menjaga semangat Ramadan meski suhu udara bisa ekstrem mencapai −30∘C hingga −40∘C.

Eva Surtana, seorang Adjunct Professor di McGill University, membagikan kisahnya tentang bagaimana hangatnya toleransi dan kuatnya ikatan komunitas Muslim Indonesia di tengah musim dingin Kanada yang membeku.

Montreal memiliki populasi Muslim yang cukup signifikan, yakni sekitar 9% dari total 4 juta penduduknya. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri, terutama di lingkungan pendidikan. Di daerah West Island, tempat Eva tinggal, populasi Muslim bahkan lebih tinggi karena banyaknya imigran dari Asia Selatan dan Timur Tengah.

"Di sekolah anak-anak, sekitar 40 persen siswanya adalah Muslim. Guru-guru di sini sudah sangat familier dengan kondisi Ramadan. Mereka memahami saat murid-murid berpuasa dan memberikan kelonggaran saat hari raya Idulfitri maupun Iduladha," ujarnya

Bagi warga Indonesia di Montreal, Syiar Montreal menjadi wadah utama untuk mempererat silaturahmi. Berdiri sejak tahun 2004 oleh para mahasiswa pascasarjana McGill University, komunitas yang kini beranggotakan sekitar 500 orang ini aktif mengadakan berbagai kegiatan religius.

Selama Ramadan, kemeriahan semakin terasa dengan adanya:

Buka Puasa Bersama: Mengobati rindu akan masakan rumah dengan sajian khas seperti bakso, soto, sate, hingga bakwan goreng.

Kudapan Ramadan: Kehadiran kolak dan es buah menjadi pelengkap wajib saat berbuka.

Program Khatamul Qur'an: Dilaksanakan secara rutin setiap minggu.

Pengajian: Mulai dari pengajian muslimah, bapak-bapak, hingga pengajian keluarga yang diadakan sebulan sekali agar anak-anak yang lahir di Kanada tetap mengenal budaya dan tradisi Indonesia.

Puncak perayaan biasanya ditandai dengan acara Open House yang digelar oleh KBRI di Ottawa. Acara ini menjadi momen yang dinanti-nantikan karena menyajikan hidangan lebaran lengkap, mulai dari lontong sayur, opor, hingga rendang.

Lebih dari sekadar menjalankan kewajiban agama, bagi Eva, tinggal di negara dengan minoritas Muslim adalah kesempatan untuk berdakwah melalui tindakan (bil hal).

"Di tengah narasi Islamofobia yang sering muncul di media Barat, inilah saatnya kita menunjukkan wajah Islam yang damai dan Rahmatan lil 'Alamin. Karena tindakan sering kali berbicara lebih lantang daripada sekadar kata-kata," katanya.

Dengan durasi puasa sekitar 12 jam (pukul 05.00 hingga 17.00), Ramadan di Montreal membuktikan bahwa jarak dan cuaca ekstrem bukanlah penghalang untuk tetap menjalankan ibadah dengan penuh sukacita.

(Kontributor Muslimat NU DIY: dr Eva Suarthana, Ph. D, Adjunct Professor di McGill University, Montreal, Kanada)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....