Krisis Lingkungan Bukan Sekadar Takdir, Ulama Soroti Perilaku Manusia

  • 27 Feb 2026 12:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama Muchlis Muhammad Hanafi mengatakan, krisis lingkungan bukanlah takdir. Fenomena cuaca ekstrem menunjukkan ketidakseimbangan akibat perubahan perilaku manusia.

Menurutnya, ilmuwan menamainya perubahan iklim atau climate change. Ia menilai kerusakan terjadi bukan semata kehendak langit.

"Para ilmuwan menyebutnya perubahan iklim atau climate change. Kerusakan bukan semata takdir langit, tetapi akibat tangan manusia," kata Muchlis dalam program Syiar Ramadan Jelang Imsak Pro3 RRI, Jumat, 27 Februari 2026.

Muchlis mengatakan, Al-Qur’an telah lebih dahulu mengingatkan melalui firman-Nya tentang kerusakan tersebut. “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,” ujar Muchlis mengutip Surah Ar-Rum ayat 41 dalam A-Qur'an.

Ayat tersebut, kata dia, menjadi cermin bahwa krisis ekologis tidak lepas dari tanggung jawab moral manusia. Ia menjelaskan istilah al-fasād yang dimaknai ulama sebagai hilangnya keseimbangan akibat kezaliman manusia.

Kesadaran tersebut, lanjut dia, dikenal sebagai ekoteologi dalam perspektif Islam. Ekoteologi menempatkan menjaga bumi sebagai bagian integral dari keimanan seorang Muslim.

"Ekoteologi adalah kesadaran bahwa menjaga bumi bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi bagian dari iman. Karena manusia bukan pemilik bumi, kita adalah khalifah," kata Muchlis.

Ia mengatakan, khalifah bukan penguasa bebas mengeksploitasi sumber daya. Khalifah adalah penjaga keadilan yang menahan hawa nafsu.

"Firaun mengaku tuhan, manusia modern sering bersikap seperti tuhan. Merasa bebas menentukan nasib bumi tanpa batas," ujarnya.

Bumi diciptakan dalam keseimbangan yang harus dijaga. Ia mengutip Surah Ar-Rahman ayat 7 hingga 8.

Ayat itu mengingatkan manusia menjaga harmoni alam. "Dia menciptakan keseimbangan agar kamu tidak merusaknya," katanya.

Ia menyoroti penebangan hutan dan pencemaran sungai. Emisi berlebih turut memperparah krisis keseimbangan lingkungan.

"Alam bukan musuh dan bukan objek eksploitasi. Langit, bumi, dan pepohonan bertasbih kepada-Nya," ujarnya.

Melalui Ramadan, ia mengajak umat memperkuat kesadaran lingkungan. Puasa melatih pengendalian diri dari sikap rakus dan eksploitatif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....