Puasa, Jangan Sampai Tambah Boros
- 27 Feb 2026 08:56 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Bulan Ramadan sejatinya menjadi momentum meningkatkan ketakwaan dan pengendalian diri. Namun ironisnya, sebagian masyarakat justru mengalami lonjakan pengeluaran selama bulan puasa. Hal ini mengemuka dalam siaran Cahaya Pagi, Jumat, 27 Februari 2026, bersama narasumber Ustadzah Muiyasih, S.Ag., M.H., Penyuluh Agama Islam Kecamatan Gubeng, Kemenag Kota Surabaya.
Dalam dialog, Ustadzah Muiyasih mengajak umat Islam untuk menjadikan Ramadan sebagai sarana memperkuat ketakwaan dan kebersamaan. “Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa ta'ala dan memanfaatkan kesatuan itu sebagai modal kita dalam meraih kebahagiaan maupun dalam menghadapi berbagai problema kehidupan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa puasa merupakan tatanan syariat Islam yang wajib dijalankan oleh setiap muslim dewasa yang tidak berhalangan, dengan menahan makan, minum, serta segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. “Puasa Ramadan bukan hanya kewajiban, tetapi juga pendidikan pengendalian diri bagi umat muslim,” tegasnya.
Menurutnya, terdapat tiga aspek pengendalian diri selama berpuasa. Pertama, pengendalian diri dari makan dan minum secara berlebihan serta pemborosan. Kedua, pengendalian dari ucapan dan perbuatan kotor. Ketiga, pengendalian dari nafsu yang tidak terpuji.
Dalam hal konsumsi, ia menekankan pentingnya prinsip halalan thayyiban serta pengaturan waktu makan. “Apa yang kita makan harus sesuai kebutuhan tubuh. Kalori berlebihan bisa menjadi beban dan memicu penyakit seperti gula darah tinggi, kolesterol, maupun asam urat,” jelasnya.
Selain itu, puasa juga menuntut pengendalian lisan dan perilaku. Ia mengutip pepatah Jawa, “Ajining diri soko lathi, ajining rogo soko busono,” yang berarti harga diri seseorang terletak pada ucapan dan perilakunya. “Martabat seseorang bukan diukur dari jabatan atau harta, tetapi dari kejujuran dan kesalehan perilakunya,” ungkap Ustadzah Muiyasih.
Ia juga mengingatkan pesan Rasulullah bahwa orang yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan buruk saat berpuasa, maka tidak memperoleh apa-apa selain lapar dan dahaga. “Puasa membangun jiwa, menata kedewasaan diri, serta menjauhkan kita dari sikap emosional dan temperamental,” tambahnya.
Terkait fenomena Ramadan yang justru membuat pengeluaran membengkak, ia menilai hal itu dipicu oleh beberapa faktor. Di antaranya godaan aneka makanan berbuka yang menggugah selera, kebiasaan belanja tidak terencana, meningkatnya biaya transportasi untuk buka bersama atau tarawih, hingga kurangnya kesadaran dalam mengontrol pengeluaran. “Banyak orang membeli makanan lebih dari yang dibutuhkan karena tergoda tampilan dan tren,” katanya.
Untuk mengatasinya, ia menyarankan perencanaan anggaran sebelum Ramadan. “Buatlah perencanaan belanja, catat pengeluaran, dan prioritaskan kebutuhan pokok. Pilih makanan sehat seperti sayur, buah, dan biji-bijian, serta kurangi makanan siap saji yang mahal dan kurang sehat,” pesannya.
Menutup dialog, Ustadzah Muiyasih menekankan pentingnya kesadaran dan komitmen pribadi agar Ramadan tidak kehilangan makna. “Masaklah makanan sendiri agar lebih terkontrol, kurangi kegiatan yang tidak bermanfaat, dan fokus pada ibadah. Dengan pengendalian diri yang baik, Ramadan bukan menjadi bulan boros, tetapi bulan penuh berkah,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....