Muhasabah Diri Kunci Kesadaran Tanggung Jawab Spiritual

  • 26 Feb 2026 20:34 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, Banda Aceh – Sekretaris Dinas Syariat Islam (DSI) Provinsi Aceh, Ustadz Marzuki S.Ag. M.H., menekankan pentingnya muhasabah atau introspeksi diri sebagai fondasi utama dalam membangun kesadaran spiritual dan tanggung jawab keagamaan setiap Muslim. Penegasan tersebut disampaikannya dalam dialog interaktif di Pro 4 RRI Banda Aceh, Kamis (26 Februari 2026).

Dalam dialog yang berlangsung hangat dan reflektif itu, Ustadz Marzuki mengawali dengan mengajak umat Islam untuk meneladani akhlak dan kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa melakukan evaluasi diri, meskipun telah dijamin surga oleh Allah SWT.

"Tak lupa kita curahkan ke pangkuan Nabi Besar Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Rasul yang selalu bermuhasabah diri. Beliau saja yang memang sudah dikuatkan oleh Allah dalam jannah, dalam surga... Dijamin masuk surga iya. Tapi dia, beliau sendiri bermuhasabah diri," ujarnya.

Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa muhasabah bukanlah tanda kelemahan, melainkan bukti ketinggian iman dan kesadaran spiritual. Jika Rasulullah yang telah dijamin surga saja masih melakukan introspeksi, maka manusia biasa sudah seharusnya lebih giat dalam mengevaluasi diri.

Ia menilai, salah satu persoalan mendasar dalam kehidupan modern adalah kurangnya kesadaran untuk mengoreksi diri secara rutin.

"Introspeksi diri. Kalau lebih bahasa dipahami menghitung diri," jelasnya.

Muhasabah, lanjutnya, berarti menghitung apa yang telah diperbuat, menilai mana yang benar dan mana yang keliru, serta memperbaiki kekurangan sebelum datangnya waktu pertanggungjawaban. Ia mengingatkan bahwa kelalaian dalam bermuhasabah dapat membuat seseorang merasa aman tanpa dasar yang jelas.

"Tapi yang kita ini nggak jelas, nggak pernah muhasabah diri ini yang..." ungkapnya, menekankan pentingnya kesadaran diri. Fase Baligh dan Awal Pertanggungjawaban Hukum Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Marzuki juga menjelaskan tentang konsep baligh dalam Islam sebagai titik awal diberlakukannya pertanggungjawaban hukum syariat kepada seseorang.

Ia menuturkan bahwa sebelum mencapai baligh, seorang anak belum dibebani tanggung jawab hukum atas perbuatannya. "Kalau di belakang itu sebelum baligh kita kan belum ada pertanggungjawaban hukum." tegasnya.

Namun setelah memasuki fase baligh, seluruh amal perbuatan mulai dicatat dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Ia menjelaskan tanda-tanda baligh secara umum. "Kita sebutkan setelah baligh. Kalau yang perempuan... baligh yang berapa. Kalau yang laki sudah mimpi basah." tambahnya.

Menurutnya, pemahaman mengenai baligh penting untuk ditanamkan sejak dini, agar generasi muda menyadari bahwa ada fase kehidupan di mana setiap tindakan memiliki konsekuensi hukum dan moral.

"Ketika kita ditetapkan hukum kepada kita, maka itu menjadi tanggung jawab besar kepada kita untuk mempertanggungkan jawaban di hadapan Allah subhanahu wa ta'ala," tegasnya. Ia menambahkan bahwa kesadaran akan tanggung jawab ini harus diiringi dengan peningkatan kualitas ibadah, akhlak, serta kepatuhan terhadap aturan syariat.

Kesadaran Akan Batas Kehidupan

Lebih lanjut, Ustadz Marzuki mengingatkan bahwa seluruh makhluk ciptaan Allah memiliki batas kehidupan yang telah ditetapkan. "Kita ketahui bahwa manusia itu... tiap-tiap diciptakan oleh Allah bukan hanya manusia, tapi semua makhluk Allah itu... itu ada batasannya." tambah ustaz Marzuki.

Kesadaran akan keterbatasan usia dan waktu, menurutnya, seharusnya mendorong manusia untuk tidak menunda kebaikan serta tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Setiap detik kehidupan merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum tiba masa perhitungan di akhirat.

Ia berharap dialog tersebut dapat menjadi pengingat bagi masyarakat Aceh untuk terus memperkuat nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Muhasabah, kata dia, bukan sekadar wacana, melainkan praktik nyata yang dilakukan secara konsisten.

Dengan introspeksi yang berkelanjutan, umat Islam diharapkan mampu membangun pribadi yang lebih bertanggung jawab, baik secara spiritual maupun sosial, serta siap mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan di hadapan Allah SWT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....