Kematian Bukanlah Akhir Dari Sebuah Perjalanan

  • 26 Feb 2026 21:01 WIB
  •  Banda Aceh

RRI.CO.ID, BANDA ACEH – Dalam suasana dialog yang penuh perenungan dan sarat pesan spiritual, Ustadz Marzuki S.Ag., M.H. menyampaikan tausiyah mendalam tentang hakikat kehidupan dan kematian saat menjadi narasumber dialog interaktif di Pro 4 RRI Banda Aceh, Kamis (26/2/2026). Di hadapan para pendengar, ia mengajak umat Islam untuk meluruskan kembali cara pandang terhadap kematian yang kerap disalahartikan sebagai akhir dari segalanya.

Sejak awal pemaparannya, Ustadz Marzuki menegaskan bahwa kehidupan di dunia memiliki batas yang pasti. Setiap manusia, kata dia, sedang menapaki waktu yang suatu saat akan berhenti. Namun berhentinya kehidupan dunia bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari fase panjang menuju kehidupan akhirat.

"Kita sudah berbuat kebaikan. Kan seperti saya katakan tadi bahwa itu kan batas, ada batasnya. Kita meninggalkan dunia berarti menuju akhirat. Menuju akhirat panjang. Saya ingin bukan mengkritik, tapi harus perbaiki," ujar Ustadz Marzuki.

Ia menekankan bahwa penyampaian tersebut bukanlah bentuk kritik semata, melainkan ajakan untuk memperbaiki pemahaman yang keliru di tengah masyarakat. Menurutnya, banyak ungkapan yang sering terdengar dalam keseharian, terutama saat prosesi pemakaman, yang secara tidak langsung menanamkan persepsi bahwa kuburan adalah tempat terakhir manusia.

Luruskan Persepsi tentang Kuburan

Dalam dialog tersebut, Ustadz Marzuki menyoroti kebiasaan sebagian orang yang menyebut kuburan sebagai “tempat terakhir”. Ia menyebut anggapan tersebut tidak tepat bagi seorang mukmin yang meyakini adanya kehidupan setelah mati.

"Ketika misalnya seseorang yang melepaskan jenazah, ‘Kita akan bawa ke kuburan tempat dia apa, tempat terakhir.’ Terakhir, itu sangat keliru. Bagi seorang yang beriman kepada Allah, perjalanan kita masih jauh. Bukan kuburan sebagai yang terakhir. Ada lagi hari bangkit, Hari Mahsyar. Habis itu Sirat, hari yang Sirat itu kita berjalan menuju Allah. Nanti-nanti baru ada penentuan fin nar atau fil jannah. Kita masuk neraka atau masuk," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa setelah kematian, manusia akan melalui tahapan-tahapan panjang dalam kehidupan akhirat. Mulai dari alam kubur, hari kebangkitan, berkumpul di Padang Mahsyar, melewati Sirat, hingga akhirnya memperoleh keputusan akhir dari Allah SWT. Keyakinan terhadap rangkaian peristiwa tersebut, menurutnya, adalah bagian dari iman yang tidak boleh diabaikan.

Muhasabah sebagai Bekal Kehidupan

Lebih lanjut, Ustadz Marzuki mengingatkan bahwa kesadaran akan batas hidup seharusnya mendorong setiap individu untuk memperbanyak muhasabah atau introspeksi diri. Waktu yang dimiliki manusia, katanya, adalah peluang untuk memperkuat iman dan meningkatkan ketakwaan.

"Jadi kita melihat bahwa kita ini yang harus bermuhasabah diri karena ada batasan hidup kita. Peluang kita untuk beriman kepada Allah, menambah ketakwaan. Beda ya, maaf nih, beda dengan orang yang tidak beriman. Dia menganggap bahwa hidup, mati, selesai," tambahnya.

Ia menilai, perbedaan keyakinan tersebut sangat memengaruhi cara seseorang menghadapi persoalan hidup. Bagi orang yang beriman, setiap ujian dipandang sebagai bagian dari proses yang memiliki makna dan tujuan. Sebaliknya, bagi mereka yang menganggap hidup berhenti saat kematian, tekanan hidup bisa terasa tanpa arah dan tanpa harapan.

Soroti Fenomena Bunuh Diri

Dalam kesempatan itu, ia juga menyinggung fenomena bunuh diri yang selama ini banyak diberitakan terjadi di sejumlah negara, dan kini mulai menjadi perhatian di Indonesia.

"Iya, makanya kalau ada masalah-masalah di dunia, mengakhiri hidup," katanya.

"Bagaimana banyaknya di Jepang bunuh diri. Dari dulu kita dengar di Jepang, di Cina, ternyata di Indonesia sudah mulai juga," tekannya.

Menurutnya, fenomena tersebut menjadi pengingat bahwa krisis spiritual dapat berdampak serius terhadap cara seseorang menyikapi masalah. Ia menegaskan bahwa penguatan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan mental dan spiritual masyarakat.

"Nah ini kan tergantung kepada taqwallah, beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala," tutupnya.

Melalui dialog di Pro 4 RRI Banda Aceh tersebut, Ustadz Marzuki berharap masyarakat tidak lagi memandang kematian sebagai akhir perjalanan. Sebaliknya, ia mengajak umat untuk menyadari bahwa kehidupan sesungguhnya justru dimulai setelah dunia ditinggalkan. Dengan kesadaran itu, setiap individu diharapkan mampu menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, memperbanyak amal kebaikan, serta mempersiapkan diri menghadapi perjalanan panjang menuju kehidupan abadi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....