Puasa Multidimensi Membentuk Ketakwaan dan Akhlak Umat
- 19 Feb 2026 09:44 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, BANJARMASIN — Pemahaman masyarakat tentang puasa tidak boleh berhenti pada aspek menahan lapar dan haus semata. Puasa sebagai proses pendidikan spiritual bertingkat yang berorientasi pada pembentukan ketakwaan. Hal ini disampaikan Ustadz Dr. Ahmad, S.Ag., M.Fil.I., Dalam dialog Kuliah Subuh di RRI Pro1 Banjarmasin, Rabu 18 Februari 2026.
dalam tausyiahnya Ustadz Ahmad menegaskan bahwa puasa merupakan ibadah multidimensi yang melibatkan tubuh, perilaku, dan hati. Karena itu, kualitas puasa tidak hanya diukur dari sah secara hukum, tetapi dari perubahan akhlak dan kebersihan batin.
Ia menjelaskan, para ulama membagi puasa menjadi tiga tingkatan spiritual. Pertama, puasa orang awam, yakni menahan makan, minum, dan syahwat sebagai syarat minimal sahnya ibadah. Pada level ini, puasa masih dominan bersifat lahiriah.
Tingkatan kedua adalah puasa orang khawas, yaitu menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. Mata, lisan, telinga, tangan, hingga langkah dijaga dari maksiat. Pada fase ini, puasa mulai membentuk karakter dan akhlak.
Adapun tingkat tertinggi adalah puasa khawas bil khawas, yakni puasa hati. Individu menahan diri dari sifat tercela seperti riya, iri, kesombongan, dan kelalaian terhadap Tuhan. Hati diarahkan pada kesadaran spiritual, keikhlasan, dan dzikir.
"Banyak orang berpuasa secara fisik, tetapi belum mencapai transformasi batin. Padahal tujuan utama puasa adalah melahirkan ketakwaan yang tercermin dalam perilaku setelah ibadah selesai," ucap Ustaz Ahmad.
Ia menegaskan, peningkatan kualitas puasa harus dilakukan bertahap melalui pengendalian diri, muhasabah, dan latihan menjaga hati. “Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi perjalanan menuju penyucian jiwa,”.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....