Sadranan Purbalingga Perkuat Identitas dan Gotong Royong
- 16 Feb 2026 00:27 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta: Menjelang bulan suci Ramadan, tradisi Sadranan masih bisa ditemui di sejumlah tempat. Di Purbalingga, tradisi ini terus dijaga lintas generasi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga, kata pemerintah setempat
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Wasis Andri Wibowo bilang, Tradisi Sadranan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ruang membangun solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Masyarakat tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga membangun solidaritas sosial. Ada rasa handarbeni atau rasa memiliki terhadap warisan budaya sendiri,” kata Wasis dalam program siaran radio Apresiasi Budaya Banyumasan di 92,8 FM Pro 4 RRI Jakarta, Jumat, 13 Februari 2026.
Dalam dialog yang dipandu Dermawan Ismail dan Kang Jori Guplak itu, Wasis menjelaskan Sadranan merupakan wujud nyata kearifan lokal yang memperkuat identitas masyarakat Banyumasan. Tradisi tersebut terus dijaga lintas generasi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat kebersamaan warga.
Menurutnya, Sadranan biasanya dilaksanakan menjelang bulan Ramadan. Rangkaian kegiatan diawali dengan kerja bakti membersihkan makam leluhur, dilanjutkan doa bersama dan kenduri. Nilai utama yang terkandung di dalamnya adalah gotong royong dan spiritualitas.
Ia menambahkan, tradisi ini juga menjadi ruang pertemuan antargenerasi. Nilai sopan santun, penghormatan kepada orang tua, serta kebersamaan diwariskan secara langsung melalui praktik budaya tersebut.
Di sejumlah desa di Purbalingga, Sadranan turut diwarnai sajian kuliner khas Banyumasan yang dibawa masing-masing keluarga. Hidangan tersebut didoakan dan dinikmati bersama sebagai wujud rasa syukur atas rezeki serta harapan akan keselamatan dan keberkahan.
Wasis menilai, di tengah arus modernisasi, Sadranan justru semakin relevan karena mengingatkan masyarakat pada akar budaya dan nilai spiritual yang tidak lekang oleh waktu.
Pemerintah daerah, lanjutnya, terus mendorong pelestarian tradisi melalui dokumentasi, edukasi budaya di sekolah, serta kolaborasi dengan komunitas seni dan tokoh adat. Upaya ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....