Program Blue Carbon Dorong Inovasi Ketahanan Air Jangka Panjang
- 14 Jul 2026 16:38 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Perusahaan yang bergerak di bidang sustainability business, Lume Carbon tengah melakukan proyek pengembangan ekosistem pesisir, termasuk rehabilitasi lamun di Indonesia Timur serta partisipasi dalam pengembangan kawasan pesisir Pantai Utara Jawa.
Program ini digelar mengingat, ketahanan air nasional membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada konservasi lingkungan, tetapi juga menghadirkan inovasi teknologi serta manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan.
Direktur Utama Lume Carbon, Rio Fafen Ciptaswara mengatakan, tantangan utama Indonesia bukan hanya ketersediaan sumber daya air, tetapi juga pemerataan akses air bersih bagi masyarakat di wilayah terpencil dan kepulauan.
“Kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan solusi yang berbeda dengan wilayah perkotaan yang telah memiliki infrastruktur air memadai,” ujar Rio Fafen saat menjadi pembicara dalam Indonesian Youth SDGs Summit (IYSDGS) 2026 yang diselenggarakan di Auditorium Abdurahman Saleh, RRI Jakarta, pada 4 Juli lalu.
Mengusung tema "Next-Gen Solutions for Energy and Food Security", forum ini mempertemukan para pemangku kepentingan dari pemerintah, organisasi internasional, akademisi, sektor swasta, dan generasi muda untuk membahas solusi berkelanjutan dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Rio menyampaikan bahwa proyek Blue Carbon yang dikembangkan Lume Carbon mengedepankan prinsip high integrity, di mana 60% manfaat ekonomi (benefit sharing) dialokasikan kepada masyarakat sekitar. Dukungan tersebut diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur dasar, termasuk penyediaan akses air bersih yang berkelanjutan.
Mengacu pada pengalaman Singapura dalam mengembangkan program SingSpring dan NEW Water, Rio menjelaskan pentingnya investasi jangka panjang pada teknologi pengolahan air untuk memperkuat ketahanan air nasional.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk mengadopsi inovasi serupa dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayahnya,” katanya.
Sebagai bagian dari implementasi proyek Blue Carbon, Lume Carbon mengembangkan empat pendekatan utama dalam mendukung ketahanan air, pertama adalah pengembangan sistem filtrasi air untuk meningkatkan akses air bersih masyarakat. Kedua, pengolahan grey water menjadi air yang dapat dimanfaatkan kembali melalui teknologi greywater treatment.
Ketiga yakni penerapan teknologi Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) untuk mengolah air payau di kawasan pesisir. Terakhir, pengembangan Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) skala kecil berbasis kontainer yang didukung energi surya untuk melayani pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil.
Selain itu, Lume Carbon juga sedang melakukan riset untuk mengembangkan teknologi membran SWRO yang lebih efisien dan terjangkau, sehingga teknologi pengolahan air laut dapat diimplementasikan secara lebih luas di Indonesia.
“Ketahanan air bukan hanya tentang mengolah sumber daya air, tetapi memastikan masyarakat, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan, memperoleh akses terhadap air bersih yang layak. Melalui inovasi teknologi dan kolaborasi lintas sektor, kami ingin memastikan proyek Blue Carbon juga memberikan manfaat sosial yang nyata,” ucap Rio.
Melalui pendekatan yang mengintegrasikan konservasi ekosistem, inovasi teknologi, dan pemberdayaan masyarakat, Lume Carbon berharap dapat berkontribusi dalam memperkuat ketahanan air Indonesia sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan menuju pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....