Tradisi Keilmuan PBNU Diharapkan Terus Diperkuat Melalui Evaluasi Konstruktif
- 28 Jun 2026 16:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Evaluasi dan sorotan terhadap jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama terus bergulir dari kalangan warga nahdliyin. Salah satu catatan datang dari tokoh kiai kampung sekaligus kader NU, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy.
Khalilur menelaah aspek tata bahasa dan akurasi kutipan dalam pidato resmi organisasi pasca-Munas-Konbes NU di Bangkalan. Menurutnya, tradisi intelektual pesantren menempatkan akurasi pelafalan teks Arab sebagai bagian penting dalam mimbar akademik keagamaan.
"Tulisan dan telaah ini merupakan bagian rekam jejak sejarah agar warga nahdliyin dapat menilai jernih kualitas kepemimpinan PBNU. Evaluasi keilmuan perlu dipandang sebagai upaya memperkuat tradisi intelektual di lingkungan Nahdlatul Ulama," ujarnya melalui keterangan tertulis, Minggu, 28 Juni 2026.
Khalilur juga menyoroti materi kutipan hadis mengenai kemakmuran sebuah negeri yang dibacakan Rais Aam PBNU. Ia mengidentifikasi teks tersebut bersumber dari kitab Nasihatul Muluk karya Imam Al-Ghazali, namun sumber aslinya tidak disebutkan.
Selain masalah rujukan, Khalilur mencatat kekeliruan pelafalan tahun Hijriah pada bagian awal pidato tersebut. Menurut kaidah ilmu 'Adad dalam kitab Alfiyah Ibn Malik, penyebutan tahun semestinya disusun secara gramatikal dan runtut.
Lebih lanjut, ia merinci enam titik kekeliruan teknis saat pembacaan naskah pidato yang telah tersedia. Catatan tersebut meliputi empat kesalahan penempatan harakat kata dan dua kesalahan dalam pelafalan beberapa kata.
Khalilur menilai rentetan kekeliruan teknis kebahasaan itu menjadi pengingat penting bagi tradisi keilmuan PBNU. Menurutnya, budaya saling mengingatkan dan evaluasi konstruktif merupakan ikhtiar menjaga marwah keilmuan serta tradisi pesantren di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....