Surplus Perdagangan RI Berlanjut 72 Bulan, Capai USD 89,1 Juta pada April

  • 05 Jun 2026 15:13 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali surplus sebesar USD 89,1 juta pada April 2026.
  • Capaian tersebut memperpanjang tren surplus neraca perdagangan nasional menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
  • Surplus terjadi karena nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai USD 25,32 miliar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali surplus sebesar USD 89,1 juta pada April 2026. Capaian tersebut memperpanjang tren surplus neraca perdagangan nasional menjadi 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, mengatakan surplus terjadi karena nilai ekspor Indonesia pada April 2026 mencapai USD 25,32 miliar. Ini lebih tinggi dibandingkan impor yang sebesar USD 25,21 miliar.

“Setelah melihat perkembangan ekspor dan impor, maka neraca perdagangan barang untuk April 2026 mencatat surplus sebesar USD 89,1 juta. Neraca perdagangan Indonesia dengan demikian telah mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ujar Pudji dikutip Jumat 5 Juni 2026.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga April 2026 Indonesia membukukan surplus neraca perdagangan sebesar USD 5,64 miliar. Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia pada April 2026 tumbuh 21,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai USD 24,15 miliar. Atau naik 23,36 persen secara tahunan.

Kenaikan ekspor nonmigas didorong oleh sejumlah komoditas unggulan, antara lain lemak dan minyak hewani/nabati yang meningkat 66,59 persen, nikel dan barang daripadanya naik 75,52 persen. Serta mesin dan peralatan mekanis yang tumbuh 57,90 persen dibandingkan April tahun sebelumnya.

Menurut Pudji, peningkatan ekspor turut dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) sebesar 15,45 persen secara tahunan menjadi USD 1.148 per metrik ton. Selain itu, harga sejumlah komoditas mineral dan energi juga mengalami kenaikan.

Faktor lain yang mendorong kinerja ekspor adalah ekspansi sektor manufaktur di negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Hal itu tercermin dari indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang berada di zona ekspansif.

“Pada April, PMI manufaktur negara mitra dagang utama seperti India, Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok berada pada zona ekspansif, di mana PMI India adalah 54,7. Kemudian Amerika Serikat 54,5, Jepang 55,1, dan Tiongkok 52,2,” kata Pudji.

Di sisi lain, nilai impor Indonesia pada April 2026 mencapai USD 25,21 miliar. Atau meningkat 22,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Meski tumbuh lebih tinggi dibandingkan ekspor, peningkatan impor sebagian besar berasal dari kelompok bahan baku dan barang penolong yang mencapai USD 18,65 miliar, naik 24,56 persen dibandingkan April 2025. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan meningkatnya aktivitas industri manufaktur domestik.

BPS mencatat nilai impor migas pada April 2026 sebesar USD 4,60 miliar atau meningkat 82,52 persen secara tahunan. Sementara itu, impor nonmigas mencapai USD 20,6 miliar, tumbuh 14,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pudji menilai peningkatan impor bahan baku dan barang penolong menunjukkan kebutuhan industri dalam negeri yang semakin tinggi. Ini seiring bergeliatnya aktivitas produksi dan manufaktur nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....