Turis Malaysia Serbu Jakarta, ICPI Soroti Tren Wisata Belanja
- 02 Jun 2026 23:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketua ICPI Prof. Azril Azahari menilai pelemahan rupiah meningkatkan daya beli wisatawan Malaysia dan Singapura di Indonesia.
- Kondisi tersebut mendorong tren wisata belanja dari wisatawan kedua negara.
- Wisatawan Malaysia banyak memilih Jakarta sebagai tujuan berbelanja.
RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Prof. Azril Azahari, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah membuat wisatawan dari Malaysia dan Singapura memiliki daya beli yang lebih kuat saat berkunjung ke Indonesia. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya aktivitas wisata belanja yang dilakukan wisatawan dari kedua negara.
Menurut Azril, wisatawan Malaysia banyak memilih Jakarta sebagai tujuan berbelanja, terutama di pusat perdagangan seperti Thamrin City dan Tanah Abang. Selain berbelanja, sebagian wisatawan juga melanjutkan perjalanan ke Bandung untuk berwisata.
"Yang Malaysia itu lebih senang belanjanya ke Jakarta. Jakarta itu sasarannya adalah Thamrin City dan Tanah Abang karena membeli pakaian-pakaian yang sangat murah," kata Azril saat dihubungi RRI, Selasa, 2 Juni 2026.
Ia menilai fenomena tersebut menjadi peluang bagi sektor pariwisata Indonesia. Namun, pemerintah perlu lebih cepat mengantisipasi perubahan perilaku wisatawan agar manfaat ekonominya dapat dimaksimalkan.
Sementara itu, wisatawan asal Singapura banyak memanfaatkan kunjungan ke Batam untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Menurut Azril, sejumlah wisatawan bahkan datang tanpa membawa banyak barang karena berencana membeli kebutuhan mereka selama berada di Indonesia.
"Mereka senang sekali datang ke Indonesia tidak bawa apa-apa. Mereka beli koper, beli peralatan, belanja di Batam untuk kebutuhan mereka," ujarnya.
Azril mengatakan tren tersebut menunjukkan adanya perubahan pola perjalanan wisata di kawasan regional. Di sisi lain, ia juga mencermati adanya pergeseran minat wisatawan Australia yang kini lebih banyak memilih Jepang sebagai tujuan wisata.
"Wisatawan yang lebih banyak saya lihat itu Malaysia karena ingin berbelanja. Kemudian Singapura itu ke Batam, sedangkan yang tertinggi zaman dulu itu Australia. Australia itu sudah shifting pergi ke Jepang," ucapnya.
Ia menilai fenomena tersebut perlu dikaji secara ilmiah agar pemerintah dapat menyusun kebijakan yang tepat. Menurutnya, peningkatan jumlah wisatawan tidak cukup dijadikan satu-satunya indikator keberhasilan sektor pariwisata.
Azril menekankan bahwa ukuran keberhasilan pariwisata seharusnya juga mempertimbangkan lama tinggal wisatawan serta besaran pengeluaran mereka selama berada di Indonesia. Kedua indikator tersebut dinilai lebih mencerminkan dampak ekonomi yang diterima masyarakat.
"Target dari pariwisata itu bukan lagi mengarah pada jumlah wisatawan. Harusnya pada length of stay, lama tinggal di Indonesia, kemudian spending of money atau berapa banyak uang yang dibelanjakan," katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini melaporkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada April 2026 mencapai 1,25 juta kunjungan. Angka tersebut naik 14,75 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan meningkat 7,22 persen secara tahunan.
Secara kumulatif, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari hingga April 2026 mencapai 4,68 juta kunjungan. Capaian tersebut meningkat 8,24 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Dengan demikian, secara total jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 1,25 juta atau naik 14,75 persen secara bulanan. Sedangkan secara tahunan naik 7,22 persen," ujar Pudji.
Pudji mengatakan wisatawan pemegang paspor Malaysia menjadi kelompok terbanyak dengan porsi 16,65 persen. Posisi berikutnya ditempati wisatawan Australia sebesar 12,65 persen dan Tiongkok sebesar 10,73 persen.
Menurut BPS, capaian kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang Januari hingga April 2026 merupakan yang tertinggi sejak 2020. Kunjungan terbanyak tercatat melalui Bandar Udara Ngurah Rai, Bali.
"Kunjungan Wisman paling banyak dilakukan oleh wisatawan yang memegang paspor Malaysia yaitu 16,65 persen. Kemudian yang kedua adalah Australia yaitu 12,65 persen dan yang ketiga adalah Tiongkok 10,73 persen," kata Pudji.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....