Gus Lilur: MBG Bantu Anak Miskin, Pelaksanaan Harus Dijaga Tetap Bersih

  • 28 Mei 2026 16:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mendukung Program Makan Bergizi Gratis.
  • program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu membantu pemenuhan gizi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta — Ketua Umum Netra Bakti Indonesia (NBI) HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur mendukung Program Makan Bergizi Gratis. Menurutnya, program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto itu membantu pemenuhan gizi anak-anak dari keluarga kurang mampu di Indonesia.

“MBG ini program sangat mulia, saya pendukung MBG. Anak-anak miskin harus menerima makanan yang layak, sehat, dan disukai,” ujar Gus Lilur dalam keterangan tertulis, Kamis 28 Mei 2026.

Ia menilai, Program MBG memiliki potensi besar menjadi program strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas generasi muda Indonesia. Namun, pelaksanaannya di lapangan harus dijaga agar tetap transparan dan tepat sasaran.

Gus Lilur menyoroti dugaan pemotongan anggaran makanan, lemahnya pengawasan dapur, serta kasus keracunan makanan di sejumlah daerah. Menurutnya, persoalan tersebut bukan terletak pada program MBG, melainkan pada pelaksanaan teknis di lapangan.

“Yang salah bukan MBG-nya, yang salah adalah aplikasinya. Presiden punya niat besar memberi makan anak-anak bangsa,” katanya.

Ia menjelaskan, pengelolaan dapur MBG seharusnya mengedepankan standar kebersihan, pengawasan gizi. Serta, tata kelola anggaran yang ketat agar kualitas makanan tetap terjaga.

Menurut Gus Lilur, pengelola dapur maupun pihak terkait tidak boleh mengurangi nilai makanan yang menjadi hak anak-anak. "Kalau anggaran makanan dipotong, maka yang dirugikan adalah anak-anak, ini harus dihentikan,” ujarnya.

Gus Lilur mengusulkan pemerintah memperkuat pengelolaan dapur berbasis sekolah maupun langsung melalui Badan Gizi Nasional (BGN). Model tersebut dinilai dapat memperpendek rantai distribusi dan memudahkan pengawasan.

Ia menyebut, sekolah dapat dilibatkan bersama komite sekolah, guru, orang tua, puskesmas, dan ahli gizi. Hal tersebur untuk memastikan makanan yang diberikan benar-benar layak konsumsi.

“Kalau dapur ada di sekolah, pengawasan lebih mudah. Serta, makanan bisa lebih segar diterima anak-anak,” kata Gus Lilur.

Ia berharap Program MBG tetap dijaga sebagai program sosial yang berorientasi pada kepentingan masyarakat, bukan sekadar proyek bisnis. "MBG pasti dicintai rakyat jika dijalankan bersih dan anggaran makan anak benar-benar utuh sampai ke piring mereka,” ujarnya.

Diketahui, Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah distribusi Program Makan Bergizi Gratis menjadi lima hari dalam sepekan demi efisiensi anggaran. Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, memastikan perubahan tidak mengurangi kualitas layanan maupun pemenuhan gizi peserta didik.

“Kita mendukung efisiensi anggaran tersebut. Salah satu bentuk dukungan BGN adalah melakukan perubahan pola pendistribusian MBG yang semula enam hari menjadi lima hari,” ujar Sony, Senin 26 Mei 2026.

Sony menjelaskan, kebijakan itu diterapkan agar distribusi MBG lebih efektif dan tepat sasaran. Program MBG nantinya hanya diberikan saat siswa berada di sekolah dan mengikuti kegiatan belajar mengajar.

“Konsepnya adalah MBG diberikan pada saat siswa ada di sekolah. Jadi kalau siswanya libur atau ada kegiatan di luar sekolah, maka tidak diberikan MBG,” ujarnya.

Menurutnya, penyesuaian distribusi dilakukan untuk mendukung efisiensi anggaran sekaligus memastikan Program MBG tetap berjalan optimal di lapangan. Sony menegaskan efisiensi BGN tidak berdampak pada pengurangan nilai bantuan maupun kualitas layanan pemenuhan gizi penerima manfaat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....