Setara Institute: Anak Bisa Radikalisasi Diri dari Konten Digital Media Sosial
- 08 Mei 2026 21:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Anak berpotensi mengalami self-radikalisasi hanya dari paparan konten digital di media sosial
- Kurangnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis membuat anak mudah terpengaruh narasi ekstrem
- Penguatan peran pendidikan dan narasi alternatif penting untuk mencegah radikalisasi sejak dini
RRI.CO.ID, Jakarta — Direktur Eksekutif Setara Institute Halili Hasan menegaskan anak dapat mengalami radikalisasi diri hanya dari paparan konten digital media sosial. Ia menyebut fenomena ini menjadi ancaman serius seiring semakin masifnya penggunaan teknologi di kalangan generasi muda.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka ruang yang sangat luas bagi penyebaran paham radikal melalui berbagai platform yang mudah diakses. Kondisi ini membuat anak-anak dapat terpapar ideologi ekstrem tanpa harus berinteraksi langsung dengan jaringan atau kelompok tertentu.
“Kita juga sering mendapati anak-anak itu mengalami apa yang disebut sebagai self-radicalization. Jadi mereka mengalami radikalisasi oleh dirinya sendiri,” kata Halili saat dialog bersama Pro3 RRI melalui virtual pada Jumat, 8 Mei 2026.
Ia menjelaskan bahwa proses radikalisasi tersebut dapat terjadi hanya dengan mengakses dan mengonsumsi konten yang beredar di media sosial. Halili menyebut, tanpa pengawasan dan kemampuan menyaring informasi, anak-anak berpotensi menyerap narasi yang berkembang di ruang digital tersebut.
“Jadi cukup dengan mengakses konten yang ada di media sosial, dia mengalami radikalisasi dengan konten itu,” ujarnya. Hal ini dinilai menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan radikalisme di kalangan generasi muda saat ini.
Halili menekankan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam membangun kemampuan berpikir kritis anak terhadap informasi digital yang dikonsumsi setiap hari. Menurutnya kemampuan tersebut menjadi benteng utama agar anak tidak mudah terpengaruh oleh konten radikal yang beredar luas.
“Critical thinking itu kan yang mengambil peran sangat besar, itu lembaga pendidikan formal,” kata Direktur tersebut. Ia menilai sekolah harus menjadi ruang utama dalam penguatan literasi digital sekaligus daya analisis anak terhadap berbagai informasi.
Selain itu, ia menekankan pentingnya memperbanyak narasi alternatif yang dapat menandingi konten radikal di media sosial. Narasi tersebut dapat mencakup isu keadilan sosial, lingkungan, serta kemiskinan yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Halili menilai penguatan literasi digital dan produksi konten positif menjadi langkah penting untuk menekan risiko radikalisasi anak. Upaya ini dinilai krusial untuk melindungi generasi muda dari pengaruh ideologi ekstrem yang berkembang di ruang digital.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....