Anggota DPR Dorong PII Jadi Penggerak Perubahan di Era Disrupsi

  • 05 Mei 2026 23:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Anggota DPR Aboe Bakar mengajak pelajar menjadi agen penggerak perubahan nasional dengan menggunakan kejernihan berpikir di tengah era disrupsi.
  • Organisasi Pelajar Islam Indonesia memperingati hari ulang tahun ke-79 untuk memperkuat fondasi ideologi bagi generasi muda muslim Indonesia.
  • Penetrasi internet yang tinggi mendorong organisasi melakukan adaptasi metode dan internalisasi nilai agar tetap relevan dalam tantangan digital.

RRI.CO.ID, Jakarta - Anggota DPR Aboe Bakar mendorong pelajar menjadi penggerak perubahan melalui kejernihan berpikir dalam menghadapi tantangan masa depan. Legislator tersebut menyampaikan pandangannya saat memperingati ulang tahun organisasi Pelajar Islam Indonesia, Senin, 4 Mei 2026.

Dia mengharapkan seluruh generasi muda Indonesia sanggup menavigasi arus perubahan di tengah situasi disrupsi digital yang masif. Keberadaan nilai ideologi ditekankan menjadi panduan hidup yang sangat utama bagi kader dalam melaksanakan tugas bagi bangsa.

“Ideologi harus hadir sebagai kompas, bukan sekadar materi kaderisasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) pertama kali didirikan di Yogyakarta pada 4 Mei 1947. Wadah mandiri tertua bagi siswa muslim ini berupaya menciptakan kesempurnaan budaya berlandaskan ajaran agama yang kuat.

Kondisi saat ini mengalami perubahan masif yang menyentuh cara berpikir hingga gaya hidup pelajar muslim di Indonesia. Setiap elemen masyarakat diminta ikut serta dalam mendampingi generasi z agar memiliki pijakan nilai moral yang kokoh.

“Pelajar tidak boleh hanya menjadi penikmat teknologi,” katanya menegaskan.

Jumlah pengguna jaringan internet secara nasional pada 2025 kini sudah tercatat telah mencapai angka 229 juta jiwa. Angka statistik pemanfaatan teknologi tersebut saat ini telah melebihi 80 persen dari total keseluruhan populasi nasional.

Generasi Z mendominasi ruang siber setelah terpantau menghabiskan waktu sekitar enam jam per hari pada media sosial. Sekitar 93 persen remaja terdeteksi aktif menggunakan gawai mereka setiap hari hanya demi menjaga aktivitas digitalnya.

“HUT PII harus menjadi titik kebangkitan dalam kesadaran dan aksi nyata,” ucapnya.

Fasilitas internet diketahui sudah terbagi ke dalam 316.000 sekolah demi mendukung seluruh kegiatan belajar dan mengajar. Kualitas pemanfaatan peralatan tersebut diharapkan mampu membawa pelajar Indonesia untuk siap menghadapi tantangan global saat ini.

Ia meyakini relevansi ideologi tetap terjaga selama perjuangan dilakukan melalui upaya penguatan visi peradaban yang amat nyata. Langkah strategis itu mencakup tiga penguatan seperti internalisasi nilai serta proses adaptasi metode berpikir secara kontekstual.

Seluruh kader organisasi juga memiliki kewajiban utama guna menampilkan sikap perilaku moral yang tinggi di tengah masyarakat. Kegiatan momentum sejarah ini semakin menguatkan tekad bersama dalam mewujudkan keunggulan pendidikan dan kebudayaan secara nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....