Godzilla El Nino dan Ancaman Krisis Pangan

  • 15 Apr 2026 15:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Fenomena El Nino 'Godzilla' diprediksi memicu kekeringan panjang di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2026. Kondisi ini berpotensi menekan produksi pangan nasional serta mengganggu stabilitas pasokan dan harga.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian zona musim mulai memasuki fase kemarau sejak awal tahun. Mayoritas wilayah diperkirakan mengalami penurunan curah hujan mulai April hingga pertengahan tahun.

Guru Besar Agroklimatologi UGM, Bayu Dwi Apri Nugroho, menyebut dampak El Nino tidak merata di semua daerah. Variasi kondisi lokal tetap harus menjadi pertimbangan dalam menentukan langkah adaptasi sektor pertanian.

"Otomatis dengan adanya informasi dari BMKG di bulan lalu, berpengaruh ke pertanian, termasuk pola curah hujannya akan mundur. Perkiraan bulan April curah hujan berkurang atau tidak sama sekali, dampaknya akan mempengaruhi pola dan kalender tanam dari petani," kata Bayu dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Selasa, 16 April 2026

Ia menekankan bahwa informasi iklim tidak boleh diterapkan secara bersamaan tanpa melihat kondisi lapangan. Beberapa wilayah bahkan masih mengalami hujan tinggi meski tren kemarau mulai muncul.

Menurutnya, yang paling rentan terdampak adalah komoditas-komoditas pangan yang memang membutuhkan air yang banyak, seperti padi dan jagung. "Padi ini kan ditanam, awal tanam padi ini mengikuti awal tanam musim hujan" ujarnya.

Sementara itu, Koordinator KRKP, Ayip Said Abdullah, menilai El Nino kali ini memiliki skala dampak serius. Istilah Godzilla digunakan untuk menggambarkan intensitas dan luasnya potensi gangguan iklim.

"Ya, ini tentu seperti yang perlu diwaspadai dengan sungguh-sungguh, jika El Nino seperti burung pipit, terlihat kecil ya. Tetapi BMKG menggunakan kata Godzilla itu menggambarkan implikasi yang serius dari El Nino yang diprediksi akan hadir," ujar Ayip.

Menurutnya, penurunan produksi beras sangat mungkin terjadi karena bertepatan dengan musim tanam kedua. Pada periode tersebut, luas tanam biasanya sudah berkurang akibat kondisi kering.

"Peluang kenaikan di atas 10 persen saya kira sangat mungkin terjadi kalau melihat situasi yang sekarang. Dan jangan lupa ini akan menjadi situasi yang double," kata dia.

Ia juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap impor pupuk yang rentan terganggu kondisi geopolitik global. Hal ini dapat memperburuk tekanan biaya produksi di tingkat petani.

Bayu maupun Ayip sepakat bahwa komunikasi antara petani dan penyuluh harus diperkuat. Edukasi adaptasi iklim menjadi kunci agar petani dapat menyesuaikan pola tanam secara tepat.

Selain itu, inovasi varitas tahan kekeringan dan efisiensi penggunaan air menjadi langkah penting. Diversifikasi pangan lokal juga dinilai sebagai strategi jangka panjang menghadapi krisis iklim.

Masyarakat diimbau tidak panik, namun tetap waspada terhadap potensi krisis pangan yang mungkin terjadi. Pengelolaan konsumsi dan pengurangan pemborosan pangan menjadi bagian dari solusi bersama. (Sarah Maulida Ali)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....