MPR Ingatkan Dampak Kenaikan Harga Minyak Global Terhadap APBN

  • 09 Mar 2026 19:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno meminta pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga tersebut dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang telah berlangsung selama sepekan terakhir.

"Harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah 70 dolar AS (per barel) dan defisit terhadap PDB di angka 2,68 persen. Maka dengan kenaikan harga minyak di atas 100 dolar AS per barel, kemungkinan defisit anggaran bisa tembus di atas 3,6 persen," kata Eddy di Jakarta, Senin, 9 Maret 2026.

Menurut Eddy, lonjakan harga minyak mentah berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Hal tersebut karena asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga minyak global saat ini.

Ia menyebut harga minyak mentah dunia bahkan sempat melonjak lebih dari 30 persen hingga mencapai sekitar 107 dolar AS per barel. Kondisi tersebut dinilai dapat menambah beban keuangan negara apabila berlangsung dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Eddy juga mengingatkan bahwa dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah dapat memengaruhi stabilitas pasokan energi global. Sejumlah negara besar pengimpor minyak seperti Tiongkok, India, Jepang, dan Korea diperkirakan akan mencari sumber pasokan alternatif di luar kawasan Timur Tengah.

Menurutnya, negara-negara tersebut dapat beralih mencari suplai minyak dari negara produsen lain seperti Nigeria, Angola, dan Brasil. Situasi tersebut berpotensi membuat Indonesia harus bersaing dengan negara-negara besar dalam mendapatkan pasokan minyak mentah.

Di sisi lain, kebutuhan minyak mentah Indonesia sendiri mencapai sekitar satu juta barel per hari. Ketika harga minyak mentah meningkat secara signifikan dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah, maka beban impor migas Indonesia akan semakin berat.

Eddy menjelaskan pada tahun 2025 Indonesia tercatat mengimpor sekitar 17,6 juta ton minyak mentah serta 37,8 juta ton produk petroleum. Nilai impor tersebut mencapai sekitar 32,8 miliar dolar AS atau setara Rp551 triliun.

Dengan asumsi volume impor yang relatif sama, kebutuhan devisa negara diperkirakan akan meningkat karena harga energi global yang lebih tinggi. "Kita perlu mewaspadai kondisi disruptif di pasar energi tidak dari kenaikan harga migas saja, namun ketersediaan pasokan," ujarnya.

Meski demikian, Eddy meyakini pemerintah telah menyiapkan berbagai alternatif sumber pasokan energi dari negara lain. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat diversifikasi sumber impor minyak mentah bagi Indonesia.

Ia menambahkan yang perlu menjadi perhatian utama adalah ketahanan fiskal negara-negara pengimpor migas. Dalam menghadapi lonjakan harga energi global dalam jangka panjang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....