Petulo, Jejak Manis dari Tradisi Jawa yang Terjaga Waktu

  • 06 Mei 2026 10:17 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya Di tengah ragam jajanan tradisional Indonesia, petulo mungkin tidak sepopuler kudapan modern yang kini banyak bermunculan. Namun bagi masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Jawa Timur, petulo bukan sekadar makanan ringan—ia adalah bagian dari tradisi, memori, dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Petulo dikenal sebagai jajanan berbahan dasar tepung beras yang dibentuk memanjang lalu dikukus. Teksturnya lembut dengan rasa gurih yang khas, biasanya disajikan bersama parutan kelapa dan taburan gula merah cair. Kombinasi sederhana ini justru menghadirkan cita rasa yang lekat di ingatan.

Menurut referensi dari buku kuliner tradisional Jawa, seperti “Makanan Tradisional Jawa dalam Serat Centhini” yang dikaji oleh Murdijati Gardjito, petulo telah dikenal sejak masa lampau dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dalam naskah-naskah kuno, makanan berbahan dasar tepung beras sering disebut sebagai bagian dari sajian sehari-hari maupun hidangan dalam upacara adat.

Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa petulo memiliki kedekatan dengan filosofi masyarakat Jawa yang menjunjung kesederhanaan dan keseimbangan. Bahan-bahan yang digunakan mudah didapat—tepung beras, air, dan kelapa—namun mampu menghasilkan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga memiliki nilai simbolis.

Pada masa lalu, petulo kerap disajikan dalam berbagai acara tradisional, seperti selamatan atau kegiatan syukuran. Kehadirannya melambangkan harapan akan kehidupan yang manis dan seimbang, tercermin dari perpaduan rasa gurih dan manis dalam satu sajian. Dalam konteks ini, petulo tidak hanya dipandang sebagai makanan, tetapi juga sebagai bagian dari ritual sosial masyarakat.

Seiring perkembangan zaman, petulo mulai banyak dijual di pasar-pasar tradisional sebagai jajanan pagi. Pedagang biasanya membuatnya secara manual dengan alat sederhana, menjaga teknik tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Proses pembuatannya yang masih mempertahankan cara lama menjadi salah satu alasan mengapa cita rasa petulo tetap autentik.

Namun, di tengah gempuran makanan modern, keberadaan petulo perlahan mulai tergeser. Meski demikian, beberapa komunitas dan pelaku kuliner tradisional terus berupaya melestarikannya, baik melalui festival makanan daerah maupun pengenalan kembali di kalangan generasi muda.

Buku kuliner tersebut juga menekankan bahwa makanan seperti petulo merupakan bagian penting dari warisan budaya tak benda. Ia merekam sejarah, kebiasaan, dan nilai-nilai masyarakat yang tidak tertulis secara langsung, tetapi hidup dalam praktik sehari-hari.

Kini, petulo tetap bisa ditemukan di sudut-sudut pasar tradisional, membawa aroma masa lalu yang hangat. Setiap gigitan bukan hanya menghadirkan rasa, tetapi juga cerita panjang tentang budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat Jawa yang sederhana namun penuh makna.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....