Ketahui Sejarah dan Teknik Dasar Latte Art
- 06 Apr 2026 15:01 WIB
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kopi menjadi minuman yang memiliki banyak penggemar. Selain disajikan dengan cara diseduh, penyajian kopi dengan hiasan diatasnya menjadi favorit banyak orang.
Biasanya juga dikenal dengan sebutan Latte Art. Namun, pernahkah anda mencari tahu darimana asal dari Latte Art? Dikutip dari laman espressoacademy-it Latte art kini menjadi bagian tak terpisahkan dari penyajian kopi modern, terutama pada minuman seperti cappuccino dan latte. Bukan hanya sekadar hiasan, seni menuang susu ini juga mencerminkan keterampilan barista dalam mengolah kopi dengan presisi, estetika, dan konsistensi.
Latte art mulai berkembang pada 1980-an di dua wilayah berbeda, yakni Seattle dan Verona. Di Seattle, tokoh seperti David Schomer dikenal sebagai pelopor teknik mikrofoam yang menjadi dasar latte art modern.
Sementara di Verona, Luigi Lupi turut mengembangkan gaya dekorasi cappuccino yang khas. Seiring waktu, latte art berkembang menjadi budaya global dengan hadirnya kompetisi internasional serta sistem sertifikasi seperti Latte Art Grading System.
Peralatan yang digunakan untuk memulai Latte art, tidak harus mahal, namun tetap perlu diperhatikan kualitasnya. Mesin espresso dengan kemampuan uap yang stabil sangat penting untuk menghasilkan tekstur susu yang ideal.
Selain itu, teko susu berbahan stainless steel dengan corong sempit membantu kontrol saat menuang. Pemilihan susu juga berpengaruh, di mana susu segar dengan kandungan protein cukup tinggi mampu menghasilkan mikrofoam yang lembut dan stabil. Alternatif seperti susu oat, kedelai, dan almond juga dapat digunakan jika diformulasikan khusus untuk barista.
Kunci utama dalam latte art terletak pada proses pengukusan susu. Teknik ini terdiri dari dua tahap, yaitu peregangan untuk memasukkan udara, serta pemolesan untuk menciptakan tekstur halus dan menyatu. Hasil akhir yang diharapkan adalah mikrofoam yang lembut, mengilap, dan menyerupai cat cair. Proses ini penting untuk memastikan susu dan busa tidak terpisah saat dituangkan ke dalam espresso.
Selain tekstur susu, teknik menuang juga menentukan hasil akhir latte art. Dua faktor utama yang harus diperhatikan adalah ketinggian dan aliran tuang. Menuang dari ketinggian tertentu membantu susu menyatu dengan crema espresso, sementara posisi yang lebih dekat dengan permukaan akan membentuk pola. Kontrol aliran juga penting agar desain dapat terbentuk dengan jelas dan rapi.
Bagi pemula, terdapat tiga pola dasar yang dapat dipelajari, yaitu hati, rosetta, dan tulip. Pola hati menjadi yang paling mudah karena hanya membutuhkan satu gerakan utama. Rosetta memerlukan teknik goyangan tangan untuk menciptakan pola menyerupai daun, sementara tulip terdiri dari beberapa lapisan pola yang ditumpuk secara bertahap. Ketiga pola ini menjadi fondasi sebelum mencoba desain yang lebih kompleks.
Dua aspek utama yang menjadi perhatian dalam menilai Latte Art, yakni simetri dan kontras. Simetri memastikan desain berada di tengah cangkir dan terlihat seimbang, sedangkan kontras menonjolkan perbedaan warna antara susu dan crema kopi. Kombinasi keduanya akan menghasilkan tampilan latte art yang menarik secara visual.
Menguasai latte art membutuhkan latihan yang konsisten dan kesabaran. Bahkan barista profesional memulai dari pola sederhana yang belum sempurna. Oleh karena itu, latihan rutin menjadi kunci untuk meningkatkan keterampilan, baik menggunakan susu asli maupun alternatif latihan untuk efisiensi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....