Sejarah Kuaci Dari Camilan Petani Hingga Simbol Kebersamaan
- 11 Feb 2026 19:45 WIB
- Nunukan
RRI.CO.ID, Nununukan - Kuaci, camilan berupa biji semangka, labu, atau bunga matahari yang disangrai, memiliki sejarah panjang yang berakar dari kebiasaan Tiongkok sejak abad ke-17. Tanaman bunga matahari sebenarnya berasal dari Amerika Utara. Masuk ke Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368-1644), awalnya tanaman ini hanya dinikmati keindahannya sebagai tanaman hias atau diambil minyaknya.
Namun, masyarakat kelas bawah terutama para petani menemukan potensi lain. Biji bunga matahari yang dipanggang ternyata menjadi sumber nutrisi yang praktis, murah, dan mengenyangkan. Inilah titik awal kuaci menjadi camilan favorit rakyat jelata untuk menemani waktu istirahat di ladang.
- Makan Kuaci (Guazi) Menjadi Bagian Interaksi Sosial Di Tiongkok.
Popularitas kuaci meledak pada masa Dinasti Qing (1644-1912). Pada era ini, kuaci tidak lagi hanya dikonsumsi oleh petani. Biji-bijian ini mulai merambah pasar kota, menjadi pendamping wajib saat upacara minum teh, hingga menjadi hidangan penutup.
Hingga akhirnya lahirlah Budaya "Mengupas Kuaci". Aktivitas ini dianggap sebagai kegiatan rekreatif yang menyenangkan. Karena harganya yang sangat terjangkau, kuaci menjadi camilan universal pertama yang menyatukan semua lapisan masyarakat, tanpa memandang status sosial.
Baca Berita: Sejarah Bakso Kelezatan Bola Daging yang Mendunia
Memasuki abad ke-20 dan ke-21, peran kuaci justru semakin krusial. Di tengah perubahan zaman yang cepat, kuaci tetap bertahan sebagai "Alat Komunikasi" yang ampuh di masyarakat Tiongkok.
Kini, kuaci hadir dengan berbagai inovasi rasa, mulai dari karamel hingga rempah pedas. Meski industrinya telah modern, esensi kuaci tetaplah sama, yakni, “Sebuah Jembatan Sosial Yang Menghubungkan Individu. Kuaci Adalah Bukti Nyata Bahwa Sesuatu Yang Sederhana Bisa Menjadi Identitas Budaya Yang Sangat Kuat”. (Sumber: Suaraglobal.id)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....