Cara Mengantisipasi Panas Ekstrem

  • 20 Jul 2026 00:28 WIB
  •  Jambi

RRI.CO.ID.Jambi - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah berulang kali mengingatkan masyarakat agar mewaspadai cuaca panas yang berpotensi membuat suhu udara mencapai 37 hingga 39 derajat Celsius di sejumlah wilayah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko dehidrasi, kelelahan akibat panas (heat exhaustion), hingga heat stroke apabila tubuh tidak terlindungi dengan baik.

Agar tetap sehat dan aman saat cuaca panas ekstrem, masyarakat perlu menerapkan sejumlah langkah sederhana. Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan minum 2–3 liter air putih setiap hari, tanpa menunggu rasa haus. Sebaiknya batasi konsumsi minuman berkafein, minuman manis berlebihan, maupun alkohol karena dapat mempercepat kehilangan cairan tubuh.

Kenakan pakaian berbahan katun atau linen yang longgar dengan warna terang agar tubuh lebih nyaman. Saat beraktivitas di luar ruangan, gunakan topi, payung, atau kacamata hitam untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung. Hindari aktivitas berat pada pukul 10.00 hingga 15.00, karena pada rentang waktu tersebut intensitas panas umumnya mencapai puncaknya. Jika memungkinkan, jadwalkan pekerjaan luar ruangan pada pagi atau sore hari.

Untuk membantu menurunkan suhu tubuh, mandi dua kali sehari atau lakukan kompres dingin pada leher, ketiak, dan lipatan paha. Konsumsi makanan yang ringan dan kaya kandungan air seperti semangka, timun, jeruk, dan buah-buahan segar lainnya. Sebaliknya, kurangi makanan yang terlalu berlemak atau terlalu pedas karena dapat membuat tubuh terasa lebih panas.

Di rumah maupun kantor, tutup jendela pada siang hari dan gunakan gorden atau tirai blackout untuk mengurangi panas yang masuk ke dalam ruangan. Menyalakan kipas angin disertai penyemprotan air tipis pada ruangan dapat memberikan efek pendinginan yang lebih baik. Cabut peralatan elektronik yang tidak digunakan karena turut menghasilkan panas. Menanam pohon atau tanaman di sekitar rumah juga membantu menurunkan suhu lingkungan. Bagi pengguna AC, atur suhu pada 25–26 derajat Celsius agar tetap nyaman sekaligus lebih hemat energi.

Kelompok yang paling rentan terhadap dampak cuaca panas adalah anak-anak, lansia, serta pekerja luar ruangan. Kondisi mereka perlu dipantau secara berkala, terutama tanda-tanda dehidrasi seperti bibir kering, tubuh lemas, atau pusing. Pekerja luar ruangan dianjurkan beristirahat sedikitnya 15 menit setiap satu jam dan menggunakan pakaian berlengan panjang yang nyaman. Selain itu, jangan pernah meninggalkan anak-anak maupun hewan peliharaan di dalam mobil, meski hanya beberapa menit, karena suhu di dalam kendaraan dapat meningkat sangat cepat.

Masyarakat juga perlu mengenali gejala heat stroke, seperti pusing berat, mual, kulit terasa sangat panas dan kering, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Jika gejala tersebut muncul, segera bawa penderita ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Sambil menunggu pertolongan medis, pindahkan korban ke tempat yang teduh, longgarkan pakaian, dan lakukan kompres dengan air dingin untuk membantu menurunkan suhu tubuh.

Selain menjaga kesehatan pribadi, masyarakat juga dapat berkontribusi menjaga lingkungan selama musim panas dengan menghemat penggunaan air, tidak membakar sampah, serta mendukung penghijauan di sekitar tempat tinggal. Semakin banyak ruang hijau, semakin kecil risiko terbentuknya efek pulau panas perkotaan (urban heat island) yang membuat suhu lingkungan terasa lebih tinggi.

Sebagai langkah antisipasi, bawalah selalu tiga perlengkapan penting saat beraktivitas di luar ruangan, yaitu botol minum berisi air putih, topi atau kipas tangan kecil, serta tisu basah untuk menyeka wajah dan leher agar tubuh tetap terasa segar selama cuaca panas.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....