BPOM Kawal Vaksin 'Bio-TCV' Perkuat Kemandirian Ketahanan Kesehatan Nasional

  • 18 Jul 2026 12:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPOM berkomitmen melindungi masyarakat melalui pengawalan inovasi vaksin produksi dalam negeri dengan mendukung peluncuran Vaksin Bio-TCV.
  • Vaksin Bio-TCV adalah vaksin tifoid konjugat pertama buatan Indonesia hasil kolaborasi PT Bio Farma Persero dan FKUI untuk menjawab tingginya beban kasus demam tifoid.
  • Peluncuran Vaksin Bio-TCV berlangsung pada acara Medical Expo FKUI 2026 di Jakarta Pusat pada Kamis, 16 Juli 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) berkomitmen melindungi masyarakat dan memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui pengawalan inovasi vaksin produksi dalam negeri. Komitmen tersebut diwujudkan dengan mendukung peluncuran Vaksin Bio-TCV sebagai vaksin tifoid konjugat pertama buatan Indonesia.

Peluncuran Vaksin Bio-TCV berlangsung dalam gelaran Medical Expo (Med-Expo) FKUI 2026 di Jakarta Pusat, Kamis, 16 Juli 2026. Vaksin tersebut merupakan hasil kolaborasi PT Bio Farma Persero bersama FKUI untuk menjawab tingginya beban kasus demam tifoid.

Kehadiran vaksin lokal itu juga menjadi langkah strategis mengurangi ketergantungan impor bahan baku obat dan vaksin nasional. Saat ini, ketergantungan impor bahan baku obat dan vaksin di Indonesia masih mencapai 94 persen.

Ketergantungan impor tersebut dinilai berpotensi mengganggu ketahanan kesehatan nasional ketika terjadi krisis global maupun gangguan pasokan internasional. BPOM kemudian memproses registrasi Bio-TCV melalui jalur khusus obat pengembangan baru dengan target penyelesaian 100 hari kerja.

"Kemandirian obat dan vaksin adalah pilar utama ketahanan nasional, kita belajar dari pandemi Covid-19, ketika pasokan global terhambat, rakyat yang menanggung risikonya. Oleh karena itu, kehadiran produk lokal hari ini adalah langkah luar biasa untuk memutus ketergantungan tersebut," ujar Ketua BPOM Taruna Ikrar dalam sambutannya di Aula FKUI Salemba, Jakarta Pusat, Kamis, 16 Juli 2026.

Sebelum memberikan nomor izin edar pada 2023, BPOM melakukan penilaian menyeluruh terhadap aspek mutu, keamanan, dan khasiat vaksin tersebut. Hingga kini, BPOM telah menyetujui tiga produk vaksin tifoid, yaitu Vivaxim, Typhim Vi, dan Bio-TCV.

Pengawasan BPOM dilakukan secara menyeluruh mulai tahapan sebelum hingga sesudah produk dipasarkan kepada masyarakat luas. Lembaga tersebut mengawal pelaksanaan uji klinik, memastikan standar CPOB, memantau rantai dingin, serta menjalankan farmakovigilans secara berkelanjutan.

Berdasarkan data e-was.pom.go.id periode Januari 2025 hingga Juli 2026, vaksin tifoid telah diproduksi sebanyak dua bets atau 84.719 vial. Sementara data Bio Farma per 13 Juli 2026 mencatat produksi mencapai 208.235 dosis dengan 30.875 dosis telah didistribusikan.

Untuk menjaga konsistensi mutu produk, unit pelaksana teknis BPOM melakukan pengambilan sampel vaksin sepanjang tahun 2026. Sampel tersebut kemudian diuji kembali di laboratorium Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional atau PPPOMN.

Vaksinasi tifoid dinilai menjadi langkah pencegahan penting dalam mendukung pendekatan One Health sekaligus menekan ancaman resistansi antimikroba. Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Kemenkes mencatat 914.000 kasus suspek tifoid sepanjang 2025, sedangkan hingga minggu ke-16 tahun 2026 mencapai 266.869 kasus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....