Bangka Advokasi MOMAL, Targetkan Eliminasi Malaria

  • 17 Jul 2026 17:29 WIB
  •  Sungailiat

RRI.CO.ID, Belinyu - Kementerian Kesehatan RI menanggulangi Kejadian Luar Biasa (KLB) Malaria di Kabupaten Bangka melalui pendekatan MOMAL atau Minum Obat Malaria Massal.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka mencatat total 148 kasus positif malaria di wilayahnya hingga 15 Juli 2026. Kasus terbanyak berada di Kecamatan Belinyu dengan total 140 kasus atau 94 persen ditemukan di Belinyu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Nora Sukma Dewi, menyebut KLB Malaria di Bangka telah ditetapkan sejak 11 Mei 2026. Karena itu sosialisasi dan advokasi MOMAL diselenggarakan di City Resort Belinyu, Jumat. 17 Juli 2026.

Tujuannya tersosialisasikan MOMAL ke masyarakat dan pemangku kebijakan khususnya di Belinyu. Selain itu mendapatkan komitmen dan dukungan lintas sektoral.

"Kegiatan ini juga untuk mencapai output pencabutan status KLB. Karena kita sudah eliminasi malaria pada tahun 2014. MOMAL dilaksanakan Agustus sampai Oktober 2026," kata Nora.

Narasumber dari Kemenkes RI, dr. Fadjar Surya Mensing Silalahi, Kepala Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor dan Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun menegaskan ada 3 komitmen utama Kemenkes dalam pelaksanaan MOMAL di Bangka.

Pertama, Penguatan Kapasitas SDM melalui pelatihan tenaga kesehatan, pelatihan kader, dan diskusi kampung.

Kedua, Fasilitasi Kebutuhan Logistik berupa obat anti malaria, kelambu, RDT, dan Kader KIT.

Ketiga, Pendampingan Penuh dalam implementasi kegiatan MOMAL di lapangan.

Lebih rinci, dr. Fadjar memaparkan 6 tahapan kegiatan MOMAL dengan pendekatan MMP (Migrant Mobile Population/ Paket Malaria Hutan) yang akan dijalankan:

1. TDA - Targeted Drug Administration: Pemberian obat pencegahan secara terarah kepada 15-60 orang per kelompok dengan target cakupan 100 persen.

2. IPTf - Intermittent Preventive Treatment for Forest-goers: Pemberian 1 dosis DHP 1 hari + PQ 7 hari untuk pekerja yang masuk dan keluar hutan.

3. AFS - Active Fever Screening: Penjaringan demam aktif dan pemeriksaan RDT untuk menemukan kasus secara dini.

4. LLIN & REPELAN: Pembagian kelambu berinsektisida dan obat oles penolak nyamuk untuk mencegah gigitan nyamuk.

5. LARVASIDASI & LINGKUNGAN: Penyemprotan larvasida radius 500 m - 2 km dan pembersihan tempat perindukan nyamuk.

6. EDUKASI MASYARAKAT: Penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku masyarakat dalam mencegah malaria.

"Kemenkes berkomitmen penuh untuk mendukung Pemerintah Kabupaten Bangka dalam percepatan respon penanggulangan KLB Malaria melalui pendekatan MOMAL," ujar dr. Fadjar.

Sementara itu, Sudadi (57), warga Plaben Kelurahan Romodong Indah Kecamatan Belinyu mengaku pernah menderita malaria sekitar tahun 2004. Ia sembuh setelah berobat tradisional ke dukun kampung. Meski begitu, ia dan warganya tetap harus mewaspadai KLB malaria itu.

Ketua RT 001 itu juga mengakui daerahnya rawan malaria. Kasus paling banyak dialami para pendatang yang bekerja di tambak udang. Wilayah yang paling rawan berada di Dusun Batu Atap, Plaben, dan Penyusuk.

"KLB di Dusun Plaben dan Batu Atap ada sekitar 10 orang yang terjangkit malaria. Mereka sudah sembuh." kata Sudadi, peserta sosialisasi.

Ia berharap dengan strategi ini, Kemenkes bersama Pemkab Bangka dapat memutus rantai penularan malaria di wilayah pertambangan, tambak, dan hutan Belinyu serta status KLB dapat segera dicabut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....