Pahami Faktor Pemicu Stres pada Anak Sejak Dini
- 15 Jul 2026 09:31 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe – Ketika mendengar kata stres, banyak orang langsung membayangkan orang dewasa yang sibuk dengan pekerjaan atau berbagai tuntutan hidup. Padahal, anak-anak juga bisa mengalami kondisi serupa. Bedanya, mereka sering kali belum mampu mengungkapkan apa yang dirasakan, sehingga perubahan perilaku menjadi sinyal yang perlu diperhatikan orang tua.
Tekanan yang dirasakan anak bisa datang dari berbagai arah. Tugas sekolah yang menumpuk, jadwal les dan kegiatan yang padat, kesulitan bergaul dengan teman, hingga pengalaman menjadi korban perundungan (bullying) dapat membuat anak merasa tertekan. Di rumah, perubahan seperti perceraian orang tua, kehilangan anggota keluarga, atau persoalan ekonomi juga dapat memengaruhi rasa aman dan kenyamanan emosional mereka.
Tak hanya itu, paparan konten yang tidak sesuai usia juga bisa memicu kecemasan pada anak. Tayangan yang berisi kekerasan, berita yang menakutkan, maupun materi dewasa dapat memengaruhi kondisi psikologis jika dikonsumsi tanpa pendampingan. UNICEF menyebutkan bahwa anak membutuhkan lingkungan yang aman dan dukungan emosional yang konsisten dari orang dewasa agar mampu menghadapi tekanan.
Senada dengan itu, Kemenkes RI mengingatkan bahwa kesehatan mental anak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan pergaulan, sementara Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai peran orang tua sangat penting untuk mengenali perubahan perilaku anak sebagai langkah awal mencegah dampak stres yang berkepanjangan.
Memasuki masa pubertas juga menjadi tantangan tersendiri. Perubahan fisik dan emosional yang terjadi dalam waktu bersamaan membuat sebagian anak lebih mudah merasa cemas, minder, atau tertekan, apalagi jika mereka merasa harus selalu memenuhi harapan orang di sekitarnya.
Karena itu, orang tua perlu meluangkan waktu untuk mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi. Memberikan waktu bermain, beristirahat, serta menciptakan suasana rumah yang hangat dapat membantu anak merasa lebih nyaman. Pendampingan saat anak menghadapi perubahan besar, termasuk pengawasan terhadap penggunaan gawai dan media sosial, juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan mental mereka.
Jika perubahan perilaku anak berlangsung cukup lama, seperti mudah marah, sering menyendiri, kehilangan minat belajar atau bermain, hingga sulit tidur, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan. Penanganan sejak dini dapat membantu anak melewati masa sulit dengan lebih baik.
Pada akhirnya, perhatian sederhana dari orang tua sering kali menjadi dukungan terbesar bagi anak. Ketika anak merasa didengar, dipahami, dan diterima, mereka akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan dalam proses tumbuh kembangnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....