Seblak, Cita Rasa Nikmat, namun Ancaman bagi Kesehatan
- 11 Jul 2026 12:18 WIB
- Lhokseumawe
RRI.CO.ID, Lhokseumawe - Seblak telah menjelma menjadi salah satu kuliner paling populer di Indonesia, terutama di kalangan anak muda dan perempuan. Perpaduan kerupuk rebus, cabai, kencur, aneka bakso olahan, sosis, mi instan, ceker, hingga taburan bumbu gurih membuat makanan khas Jawa Barat ini memiliki cita rasa pedas yang menggugah selera.
Tidak sedikit pula yang menjadikan seblak sebagai makanan harian atau camilan favorit. Namun, di balik popularitasnya, terdapat sejumlah fakta kesehatan yang patut menjadi perhatian.
Pada dasarnya, seblak bukanlah makanan yang berbahaya. Risiko kesehatan muncul ketika seblak dikonsumsi terlalu sering, dalam porsi besar, serta menggunakan banyak bahan pangan olahan seperti sosis, bakso olahan, mi instan, atau kerupuk tinggi natrium yang dipadukan dengan cabai berlebihan.
Kandungan garam, lemak, dan penyedap yang tinggi dapat meningkatkan risiko hipertensi, obesitas, gangguan metabolisme, hingga penyakit kardiovaskular apabila menjadi pola makan jangka panjang.
Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan ultraolahan secara berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko beberapa jenis kanker saluran cerna, meskipun hubungan tersebut tidak berarti bahwa seblak secara langsung menyebabkan kanker. Sebagian masyarakat juga mengaitkan seblak dengan kanker.
Faktanya, hingga saat ini belum ada penelitian yang menyatakan bahwa seblak secara spesifik menyebabkan kanker. Namun, jika seblak mengandung daging olahan seperti sosis atau kornet yang dikonsumsi berlebihan dan terus-menerus, risikonya dapat meningkat.
Badan Internasional untuk Riset Kanker (IARC) di bawah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen bagi manusia karena bukti yang cukup mengenai kaitannya dengan kanker kolorektal.
Selain itu, senyawa nitrosamin yang dapat terbentuk pada pangan olahan tertentu juga telah lama diteliti memiliki hubungan dengan peningkatan risiko kanker lambung, meski dipengaruhi banyak faktor lain.
Bagi perempuan, konsumsi seblak yang terlalu sering juga perlu disikapi bijak. Makanan tinggi natrium dapat memicu retensi cairan sehingga tubuh terasa lebih bengkak menjelang menstruasi. Sementara itu, pola makan tinggi kalori tetapi rendah serat dan vitamin dapat meningkatkan risiko obesitas.
Obesitas sendiri diketahui menjadi salah satu faktor risiko berbagai penyakit kronis, termasuk diabetes tipe 2, gangguan kesuburan, serta beberapa jenis kanker yang dipengaruhi hormon. Dengan demikian, persoalannya bukan terletak pada seblaknya semata, melainkan pada pola konsumsi yang tidak seimbang.
Fenomena banyaknya anak muda, terutama perempuan, yang gemar berburu seblak juga tidak lepas dari pengaruh media sosial. Beragam tantangan makan pedas, ulasan kuliner, hingga tren kuliner viral mendorong banyak orang mengonsumsi makanan tersebut demi mengikuti tren.
Padahal, sensasi nikmat pedas dan gurih yang memanjakan lidah tidak selalu sejalan dengan kebutuhan gizi tubuh.
Seblak tetap dapat dinikmati sebagai bagian dari gaya hidup yang sehat apabila dikonsumsi secara wajar.
Mengurangi tingkat kepedasan, membatasi penggunaan bahan olahan, memperbanyak sayuran, serta tidak menjadikannya menu harian, merupakan langkah sederhana untuk menekan risiko kesehatan.
Pada akhirnya, menikmati makanan favorit bukanlah sesuatu yang keliru, asalkan diimbangi dengan pola makan bergizi seimbang dan gaya hidup aktif. Sebab, kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan, melainkan oleh kebiasaan yang dibangun setiap hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....