Primaya Hospital Sukses Lakukan Tindakan untuk Pasien Gangguan Saraf Berkemih
- 14 Jul 2026 16:40 WIB
- Jakarta
RRI. CO. ID, JAKARTA – Dunia kedokteran Indonesia kembali mencatatkan pencapaian gemilang. Primaya Hospital Bekasi Timur menjadi rumah sakit pertama di Indonesia yang berhasil melaksanakan tindakan medis mutakhir untuk mengatasi pasien dengan gangguan saraf berkemih. Operasi bersejarah ini dipimpin langsung oleh spesialis bedah saraf, dr. Muhamad Aulia Rahman.
Tindakan ini memanfaatkan teknologi Sacral Neuromodulation (SNM), sebuah metode inovatif untuk memperbaiki fungsi saraf di area panggul. Saraf panggul sendiri memegang peranan krusial karena mengontrol organ berkemih (kencing), buang air besar, hingga fungsi ereksi.
"Zaman dulu, kalau ada kerusakan di area tersebut, kita hanya bisa berikhtiar secara mentok dengan stem cell, namun hasilnya tidak sebagus ini dan biayanya pun sama-sama mahal. Sekarang, dengan adanya teknologi ini, pasien yang awalnya tidak bisa kencing dan harus bergantung pada kateter, atau yang mengalami gangguan BAB, kini memiliki solusi yang lebih pasti," ujar dr. Muhamad Aulia Rahman saat memberikan keterangan. Selasa 14 Juli 2026.
Cara Kerja "Alat Pacu Saraf"
Teknologi SNM ini bekerja mirip dengan alat pacu jantung. Alat ini terdiri dari komponen yang ditanam langsung ke dalam saraf pasien serta sebuah baterai generator sebagai sumber energi listrik. Secara sederhana, alat ini bertindak sebagai alat pacu saraf. Saraf yang kurang aktif dirangsang agar lebih aktif, sementara saraf yang hiperaktif diredam agar kembali seimbang (balance) sehingga fungsinya kembali normal.
Baterai yang ditanam ini memiliki ketahanan atau lifetime rata-rata sekitar 6 hingga 8 tahun, tergantung pada besarnya dosis aliran listrik yang dibutuhkan oleh tubuh pasien.
Inovasi yang Melampaui Standar Internasional
Menariknya, tim medis Primaya Hospital Bekasi Timur tidak hanya mengadopsi teknologi yang sudah sukses diterapkan di China ini, melainkan juga melakukan inovasi mandiri yang belum tentu dilakukan di negara asalnya. Selama proses operasi berlangsung, dr. Aulia dan tim menerapkan metode intraoperative neuromonitoring.
"Kita mengukur betul dari enam lubang saraf yang ada untuk melihat mana hasil yang paling bagus. Kita ukur kuantifikasinya secara presisi; berapa milivolt listriknya, bagaimana hambatannya, hingga pergerakan kakinya. Dosis listrik ini sangat personal karena setiap orang dan jenis penyakitnya berbeda, misalnya pasien dengan gangguan ereksi atau nyeri panggul akibat kanker," jelasnya.
Hebatnya lagi, pengaturan dosis listrik pasca-operasi sangat praktis. Jika pasien merasa dosisnya kurang atau berlebih, dokter dapat menyetel dan memprogram ulang alat tersebut cukup melalui aplikasi khusus di smartphone atau tablet, tanpa perlu melakukan tindakan operasi ulang.
Kini Tersedia di Indonesia
Sebelum keberhasilan ini, opsi pengobatan SNM belum tersedia di Asia Tenggara seperti Singapura atau Malaysia, dan mayoritas pasien harus melakukan perjalanan medis ke China. Dengan hadirnya layanan ini di Primaya Hospital Bekasi Timur yang menjadi salah satu dari sedikit rumah sakit dengan lisensi bedah saraf khusus ini di Indonesia masyarakat kini tidak perlu lagi jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan penanganan medis terbaik.
Kerusakan saraf panggul yang diakibatkan oleh kecelakaan, kanker, peradangan saraf (seperti penyakit autoimun), hingga komplikasi operasi sebelumnya, kini dapat ditangani secara lokal dengan teknologi berstandar internasional.
Sementara Direktur Primaya Hospital Bekasi Timur, Dr. dr. Meizar Rizaldi, M.Ked.Klin., MM., MBA., FISQua, mengatakan bahwa pencapaian ini mencerminkan komitmen Primaya Hospital dalam menghadirkan layanan medis berstandar internasional yang dapat diakses masyarakat Indonesia.
"Keberhasilan melakukan tindakan SNM pertama di Indonesia menjadi bukti nyata pengembangan layanan Brain & Neuro sebagai salah satu Center of Excellence Primaya Hospital. Kami ingin memastikan masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap teknologi medis terkini tanpa harus mencari pengobatan ke luar negeri. Ke depan, kami akan terus menghadirkan inovasi yang didukung tenaga medis kompeten dan standar pelayanan terbaik agar semakin banyak pasien memperoleh kualitas hidup yang lebih baik," ungkap dr. Meizar.
Salah satu pasien pertama yang menjalani tindakan SNM, Ratna Ira Andriyanti (40), mengalami gangguan berkemih setelah kecelakaan dan telah menjalani berbagai pengobatan tanpa hasil karena penyebab utamanya adalah gangguan saraf.
"Sebelumnya saya selalu khawatir saat beraktivitas karena sulit menahan buang air kecil. Setelah menjalani tindakan SNM, kondisi saya jauh lebih baik. Kini saya bisa kembali beraktivitas dengan lebih percaya diri dan merasa mendapatkan kembali kualitas hidup saya. Saya sangat terharu dan bersyukur," tutur Ratna.
Melalui inovasi ini, Primaya Hospital berharap semakin banyak pasien dengan gangguan saraf berkemih dapat memperoleh terapi yang sebelumnya hanya tersedia di luar negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....