Smartwatch Belum Akurat Hitung Kalori Tubuh saat Berolahraga Harian
- 10 Jul 2026 21:57 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Penggunaan smartwatch semakin populer sebagai perangkat pendukung gaya hidup sehat. Selain mencatat jumlah langkah, durasi aktivitas, dan detak jantung, perangkat ini juga banyak dimanfaatkan untuk memperkirakan jumlah kalori yang terbakar selama berolahraga. Namun, Dokter Spesialis Gizi Klinik Nadhira Afifa mengingatkan bahwa angka kalori yang ditampilkan smartwatch belum dapat dijadikan acuan sepenuhnya.
Melalui unggahan di akun TikTok pribadinya, dr. Nadhira menjelaskan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan estimasi pengeluaran kalori pada smartwatch masih memiliki tingkat kesalahan yang cukup besar, yakni berkisar antara 30 hingga 93 persen. Karena itu, pengguna perlu memahami bahwa hasil yang ditampilkan perangkat hanya berupa perkiraan, bukan angka pasti. "Kalau di smartwatch dibilang 1.500 kalori, sebenarnya mungkin cuma sekitar 400 sampai 500 kalori yang benar-benar terbakar per hari," ujarnya.
Menurut dr. Nadhira, smartwatch menghitung jumlah kalori yang terbakar berdasarkan beberapa parameter, seperti usia, berat badan, jenis kelamin, detak jantung (heart rate), dan jenis aktivitas fisik yang dilakukan. Meski demikian, proses pembakaran energi di dalam tubuh dipengaruhi oleh jauh lebih banyak faktor yang belum sepenuhnya mampu dihitung oleh algoritma perangkat tersebut.
Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan seseorang, Basal Metabolic Rate (BMR), massa otot, hingga kemampuan tubuh memanfaatkan oksigen saat beraktivitas turut menentukan besarnya energi yang dikeluarkan. Faktor-faktor tersebut memiliki peran penting dalam proses metabolisme sehingga hasil perhitungan kalori pada smartwatch masih memiliki keterbatasan dalam menggambarkan kondisi sebenarnya. "Kalau untuk mengukur heart rate, persentase error-nya lumayan kecil sehingga cukup akurat. Tapi kalau menghitung pengeluaran kalori, persentase error-nya masih tinggi sekali," ucapnya.
Dr. Nadhira mengimbau masyarakat agar tidak menjadikan angka kalori pada smartwatch sebagai satu-satunya indikator keberhasilan olahraga. Menurutnya, perangkat tersebut lebih tepat dimanfaatkan untuk memantau aktivitas fisik secara umum, seperti durasi latihan, jumlah langkah, intensitas gerak, serta pemantauan detak jantung, sementara evaluasi kesehatan tetap perlu dilakukan secara menyeluruh.
Ia berharap masyarakat dapat menggunakan teknologi secara lebih bijak dengan memahami kelebihan sekaligus keterbatasannya. Dengan memadukan penggunaan smartwatch, pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang teratur, serta konsultasi dengan tenaga medis apabila diperlukan, upaya menjaga kebugaran dan kesehatan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....