Mahasiswa Unsoed Kembangkan "MagGel" untuk Dukung Terapi Kanker Payudara

  • 06 Jul 2026 12:00 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Lima mahasiswa Program Studi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), mengembangkan inovasi Magnetic Hydrogel (MagGel) Kurkumin-Fe₃O₄ untuk mendukung terapi fotodinamik (Photodynamic Therapy/PDT) pada kanker payudara.

Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) 2026 dari Belmawa Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua tim, Eksanty Julia Natalie, mengatakan pengembangan inovasi tersebut dilatarbelakangi masih tingginya angka kasus kanker payudara di Indonesia. Berdasarkan data Globocan 2024 dan Kementerian Kesehatan RI, terdapat 66.271 kasus baru kanker payudara pada 2022 dengan 22.598 kematian.

Lebih dari separuh kasus baru baru terdeteksi pada stadium lanjut, kondisi yang menekan peluang bertahan hidup dalam lima tahun hingga di bawah 20 persen, jauh berbeda dengan angka di atas 97 persen apabila kanker ditemukan sejak dini.

“Selisih angka itu menggambarkan satu hal sederhana, semakin cepat kanker dikenali dan ditangani dengan tepat, semakin besar peluang seorang pasien untuk sembuh,” ujar Eksanty dalam keterangan yang diterima RRI, Senin (6/7/2026).

Menurut Eksanty, MagGel Kurkumin-Fe₃O₄ dirancang sebagai material berbasis hidrogel magnetik yang membawa kurkumin sebagai fotosensitizer untuk mendukung terapi fotodinamik (PDT). Dalam terapi ini, senyawa fotosensitizer akan aktif setelah disinari cahaya sehingga menghasilkan molekul oksigen reaktif yang dapat merusak sel kanker.

"Kurkumin itu seperti pejuang yang sebenarnya tangguh, tapi gampang lemas dan tersesat sebelum sampai ke garis depan. Tugas kami adalah memberinya perisai sekaligus penunjuk arah, dan di situlah hidrogel magnetik kami berperan," kata Eksanty.

Ia menjelaskan, sistem yang dikembangkan mengombinasikan tiga komponen, yakni kurkumin sebagai fotosensitizer, hidrogel sebagai media penghantar obat yang melindungi dan mengatur pelepasan senyawa secara bertahap, serta nanopartikel Fe₃O₄ yang bersifat magnetik sehingga berpotensi diarahkan menuju lokasi tumor menggunakan medan magnet eksternal.

Menurutnya, formulasi tersebut menawarkan pendekatan baru karena menggabungkan ketiga komponen dalam satu sistem magnetic hydrogel untuk terapi fotodinamik kanker payudara dengan memanfaatkan iradiasi LED berenergi rendah.

"Kebaruan riset kami terletak pada titik temu tiga unsur ini dalam satu platform yang utuh. Kami berharap sistem ini mampu memperbaiki profil farmakokinetik kurkumin sekaligus meningkatkan efektivitas terapi fotodinamik melalui pendekatan yang lebih terarah dan minim efek samping," ujarnya.

Eksanty berharap hasil riset tersebut tidak berhenti sebagai penelitian di laboratorium, tetapi dapat menjadi cikal bakal pengembangan material biomedis yang aman, terjangkau, dan bermanfaat bagi pasien kanker payudara di Indonesia.

Riset tersebut dikerjakan oleh Eksanty Julia Natalie bersama Aisy Nabilah Anisah, Fadlillah Hari Alfarizi, Devi Mei Ningrum, dan Muthi'ah Syahidah di bawah bimbingan dosen FMIPA Unsoed, Anung Riapanitra, S.Si., M.Sc., Ph.D.

Anung mengapresiasi inovasi yang dikembangkan mahasiswanya karena dinilai mampu menjawab persoalan kesehatan masyarakat melalui pendekatan ilmiah.

"Yang membuat saya bangga bukan hanya hasil risetnya, tetapi cara mahasiswa menerjemahkan isu kesehatan masyarakat yang rumit menjadi solusi sains yang bisa dijelaskan dengan bahasa sederhana. Itu yang membuat riset benar-benar berdampak," ujarnya.

Selain menghasilkan draf artikel ilmiah sebagai luaran penelitian, tim berharap inovasi tersebut dapat mendorong lahirnya lebih banyak riset mahasiswa yang berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan kesehatan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....