Donor Darah Apheresis: Trombositmu Bisa Selamatkan Nyawa

  • 04 Jul 2026 14:05 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Donor darah merupakan kegiatan mulia yang memberikan harapan hidup bagi banyak orang. Terdapat dua jenis donor yang umum dilakukan, yaitu donor darah biasa dan donor darah apheresis. Kedua metode ini memiliki aturan frekuensi dan jarak antar-donor yang berbeda. Perbedaan ini bertujuan untuk menjaga kesehatan pendonor sekaligus memastikan tubuh memiliki waktu yang cukup untuk pulih sebelum donor berikutnya.

Pada donor darah biasa, satu kantong darah utuh diambil dari tubuh pendonor, yang kemudian akan diproses untuk mendapatkan komponen darah seperti sel darah merah, plasma, atau trombosit. Karena seluruh darah diambil, tubuh memerlukan waktu lebih lama untuk memulihkan kadar hemoglobin, zat besi, dan cairan tubuh. Oleh sebab itu, frekuensi donor darah biasa dianjurkan setiap 12 minggu atau 3 bulan sekali untuk laki-laki, dan setiap 16 minggu atau 4 bulan sekali untuk perempuan.

“Berbeda dengan donor darah biasa, donor darah apheresis hanya mengambil komponen tertentu dari darah, seperti trombosit, plasma, atau sel darah putih”, ungkap dr. Annisa Rahmadani dari Unit Donor Darah PMI Banyumas.

Komponen lainnya akan dikembalikan ke tubuh pendonor selama proses berlangsung. Metode ini memungkinkan tubuh untuk pulih lebih cepat, sehingga pendonor apheresis dapat mendonorkan darah lebih sering, yaitu setiap 2 minggu sekali. Dalam satu tahun, pendonor apheresis dapat mendonorkan darah hingga 24 kali, selama kondisi kesehatan mereka memenuhi syarat.

Keunggulan donor apheresis ini didukung oleh kemampuan tubuh untuk memproduksi kembali komponen darah yang diambil dalam waktu singkat. Sebagai contoh, trombosit biasanya dapat dipulihkan dalam hitungan hari, berbeda dengan regenerasi darah utuh yang memerlukan waktu lebih lama. Oleh karena itu, donor apheresis menjadi solusi efektif untuk memenuhi kebutuhan medis tertentu, seperti bagi pasien kanker yang membutuhkan trombosit dalam jumlah besar.

Meski demikian, baik donor darah biasa maupun donor apheresis tetap memiliki beberapa kesamaan dalam persyaratannya. Pendonor harus dalam kondisi sehat, memiliki kadar hemoglobin yang cukup, tekanan darah normal, serta berat badan minimal 45 kg. Selain itu, pendonor dianjurkan untuk mengonsumsi makanan bergizi dan beristirahat cukup sebelum dan sesudah mendonorkan darah, guna mendukung proses pemulihan tubuh.

Memahami aturan frekuensi dan jarak donor sangat penting agar pendonor dapat menjaga kesehatannya sekaligus memberikan manfaat optimal bagi pasien yang membutuhkan. Jika Anda tertarik untuk menjadi pendonor, pastikan untuk berkonsultasi dengan petugas medis dan mengikuti prosedur yang berlaku. Dengan menjadi pendonor yang sadar dan rutin, Anda tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan positif dalam kehidupan banyak orang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....