Jangan Anggap Sepele, Limbah Medis Bisa Berisiko bagi Kesehatan dan Lingkungan
- 27 Jun 2026 09:19 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Limbah medis tidak hanya menjadi tanggung jawab rumah sakit atau tenaga kesehatan, tetapi juga perlu mendapat perhatian seluruh masyarakat. Pengelolaan yang tidak sesuai standar dapat mencemari lingkungan sekaligus meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit menular.
Dosen Program Studi Kesehatan Lingkungan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Dr. Hugi Cerlyawati, M.Si, mengatakan limbah medis merupakan sisa kegiatan pelayanan kesehatan yang berpotensi mengandung bahan infeksius, benda tajam, bahan kimia, maupun limbah farmasi." Jika tidak dikelola sesuai prosedur, limbah tersebut dapat membahayakan petugas kesehatan, masyarakat, dan lingkungan," ujarnya di SPADA PRO2 FM RRI Semarang, Jumat, 26 Juni 2026.
Menurutnya, limbah medis dapat mencemari tanah, air, maupun udara apabila proses penyimpanan, pengangkutan, hingga pemusnahannya tidak memenuhi standar. Kondisi tersebut memungkinkan mikroorganisme penyebab penyakit maupun zat berbahaya menyebar ke lingkungan sekitar.
Ia menjelaskan masyarakat yang tinggal di sekitar fasilitas pelayanan kesehatan tidak perlu panik, namun tetap harus memahami potensi risiko apabila terjadi kebocoran atau pengelolaan limbah yang buruk. Risiko tersebut dapat berupa paparan infeksi bakteri, virus, maupun bahan kimia berbahaya yang berdampak terhadap kesehatan.
"Penularan penyakit seperti hepatitis atau infeksi lainnya lebih berisiko terjadi apabila seseorang terkena benda tajam yang telah terkontaminasi. Karena itu, sistem pengelolaan limbah medis harus benar-benar memenuhi standar agar risiko tersebut dapat dicegah," katanya.
Selain berdampak terhadap kesehatan manusia, limbah medis yang mencemari lingkungan juga dapat mengganggu keseimbangan ekosistem. Zat berbahaya yang masuk ke tanah dan perairan berpotensi terakumulasi dalam rantai makanan hingga akhirnya kembali dikonsumsi manusia.
Dr. Hugi menuturkan masyarakat perlu memahami perbedaan infeksi dan kontaminasi sebagai bagian dari edukasi kesehatan lingkungan. Kontaminasi merupakan masuknya zat atau mikroorganisme ke lingkungan, sedangkan infeksi terjadi ketika mikroorganisme tersebut berhasil masuk ke tubuh dan menyebabkan penyakit.
"Jika masyarakat menemukan jarum suntik bekas atau limbah medis, jangan menyentuhnya secara langsung. Segera laporkan kepada petugas berwenang, dan apabila terjadi luka akibat benda tajam, segera cuci dengan air mengalir, lakukan pertolongan pertama, lalu periksakan diri ke fasilitas kesehatan," jelasnya.
Dr. Hugi berharap pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan limbah medis. Pelaporan berkala, kepatuhan terhadap regulasi, serta kepedulian masyarakat menjadi kunci untuk memutus rantai dampak limbah medis terhadap kesehatan dan lingkungan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....