Terapi Stem Cell untuk Nyeri Lutut Dinilai Menjanjikan
- 25 Jun 2026 00:58 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Terapi stem cell atau sel punca kini menjadi salah satu alternatif pengobatan yang banyak diperbincangkan untuk mengatasi nyeri sendi, khususnya pengapuran lutut atau osteoartritis. Metode ini menawarkan harapan bagi pasien yang ingin menunda atau bahkan menghindari operasi penggantian sendi.
Dilansir dari Kompas.com, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi Subspesialis Panggul dan Lutut, dr. Auliya Akbar, Sp.OT, Subsp. PL (K), menjelaskan bahwa terapi stem cell bekerja dengan pendekatan regeneratif yang bertujuan memperbaiki jaringan tulang rawan yang mengalami kerusakan.
Meski demikian, terapi ini tidak dapat dianggap sebagai solusi instan untuk seluruh kasus nyeri lutut. Tingkat keberhasilannya sangat bergantung pada tingkat keparahan kerusakan sendi yang dialami pasien.
Menurut dr. Auliya, hasil terapi cenderung lebih baik pada pasien yang masih berada pada tahap awal pengapuran. Sebaliknya, pada kasus yang sudah memasuki stadium lanjut, kemampuan stem cell untuk meregenerasi tulang rawan yang telah aus menjadi lebih terbatas.
Berbeda dengan obat pereda nyeri yang hanya mengurangi gejala sementara, stem cell berupaya memperbaiki jaringan yang rusak sehingga fungsi sendi dapat kembali optimal. Untuk menilai keberhasilan terapi, dokter tidak hanya mengandalkan keluhan pasien, tetapi juga menggunakan pemeriksaan pencitraan seperti MRI dengan teknik khusus yang dapat mengukur ketebalan tulang rawan.
Selain untuk osteoartritis, pendekatan biologis serupa juga mulai diterapkan pada kasus osteoporosis. Terapi tersebut bertujuan merangsang sel punca alami dalam tubuh agar menghasilkan faktor pertumbuhan yang dapat membantu meningkatkan kepadatan tulang.
Meski menjanjikan, dokter menegaskan bahwa terapi stem cell bukanlah pilihan pertama bagi pasien yang baru mengalami keluhan nyeri lutut. Penanganan konservatif tetap menjadi langkah awal yang harus dijalani, seperti menurunkan berat badan, memperbaiki pola hidup, serta menghindari aktivitas yang memberikan tekanan berlebih pada sendi.
Apabila upaya konservatif tersebut tidak menunjukkan hasil setelah tiga hingga enam bulan, dokter dapat mempertimbangkan pilihan terapi lain, termasuk injeksi asam hialuronat maupun stem cell, sesuai kondisi masing-masing pasien.
Dr. Auliya menjelaskan bahwa terdapat masa emas atau golden period dalam terapi stem cell. Pada pasien dengan pengapuran derajat awal, peluang perbaikan kondisi sendi dinilai cukup besar. Namun, ketika lutut sudah mengalami deformitas hingga berbentuk huruf O atau X akibat kerusakan berat, efektivitas terapi menjadi jauh lebih rendah.
Karena itu, pasien disarankan untuk tidak menunda pemeriksaan medis ketika mulai merasakan keluhan pada lutut. Penanganan yang lebih cepat dapat meningkatkan peluang keberhasilan terapi dan mencegah kerusakan yang semakin parah.
Di sisi lain, keberhasilan terapi stem cell juga sangat dipengaruhi oleh komitmen pasien dalam menjaga kesehatan setelah tindakan dilakukan. Menjaga berat badan ideal, menerapkan pola makan sehat, dan mengatur aktivitas fisik menjadi bagian penting untuk mempertahankan hasil terapi.
Para ahli juga mengingatkan bahwa stem cell bukanlah prosedur pencegahan bagi orang yang tidak memiliki masalah pada sendi. Setiap tindakan medis tetap memiliki risiko, termasuk risiko infeksi, sehingga penggunaannya harus berdasarkan kebutuhan medis yang jelas dan rekomendasi dokter.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....