Kenali Risiko Cedera dari Berbagai Jenis Olahraga

  • 09 Jun 2026 05:31 WIB
  •  Ambon

RRI.CO.ID, Ambon - Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat mendorong semakin banyak orang untuk rutin berolahraga. Mulai dari lari, latihan kebugaran di pusat kebugaran, hingga mengikuti berbagai tren olahraga yang populer di media sosial kini menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Namun, aktivitas fisik yang dilakukan tanpa persiapan dan teknik yang tepat dapat meningkatkan risiko cedera.

Dilansir dari Kompas.com, Konsultan Senior Ahli Bedah Ortopedi di Mount Elizabeth Hospitals Singapura, dr. Alan Cheung, menjelaskan bahwa setiap jenis olahraga memiliki pola cedera yang berbeda sesuai dengan karakteristik gerak dan beban yang diterima tubuh. Karena itu, pemahaman terhadap risiko cedera menjadi penting bagi setiap pegiat olahraga.

Menurut dr. Cheung, olahraga ketahanan atau endurance seperti lari jarak jauh umumnya menimbulkan cedera akibat tekanan berulang pada otot, tulang, dan ligamen di area tungkai. Cedera yang sering ditemukan antara lain shin splints atau peradangan pada tulang kering, serta peradangan tendon di sekitar lutut yang menyebabkan rasa nyeri saat beraktivitas.

Sementara itu, olahraga tarung profesional justru memiliki tingkat cedera berat yang relatif terkendali. Hal ini karena adanya aturan pertandingan yang ketat serta pengawasan wasit yang dapat menghentikan pertandingan sebelum atlet mengalami cedera yang lebih serius. Cedera yang umum terjadi pada cabang olahraga ini antara lain memar, gegar otak ringan, dan patah tulang.

Risiko cedera yang lebih kompleks banyak ditemukan pada olahraga beregu dengan kontak fisik tinggi, seperti rugby dan sepak bola. Pada cabang olahraga tersebut, cedera bahu, dislokasi sendi, hingga robeknya anterior cruciate ligament (ACL) di lutut menjadi ancaman yang cukup sering terjadi akibat benturan maupun perubahan arah gerak secara tiba-tiba.

Dr. Cheung juga mengingatkan pentingnya mengenali perbedaan antara nyeri otot yang normal setelah berolahraga dan tanda-tanda cedera yang membutuhkan penanganan medis. Nyeri otot setelah latihan, terutama bagi pemula, merupakan kondisi yang wajar. Namun, rasa sakit yang berlangsung selama beberapa hari dan terus memburuk tidak boleh diabaikan karena dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.

Selain jenis olahraga, faktor anatomi tubuh turut memengaruhi risiko cedera. Pria lebih rentan mengalami cedera pada punggung dan tubuh bagian atas akibat penggunaan beban yang lebih berat saat berlatih. Sementara itu, perempuan memiliki risiko lebih tinggi mengalami cedera ACL karena perbedaan struktur tubuh dan faktor hormonal. Oleh karena itu, setiap individu dianjurkan menyesuaikan intensitas latihan dengan kondisi tubuh serta segera beristirahat atau berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami nyeri yang tidak kunjung membaik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....