Waspada! Tumpukan Sampah Bisa Sebabkan Gangguan Pernapasan dan Stres
- 22 Jun 2026 17:50 WIB
- Jakarta
RRI.CO.ID, Jakarta - Praktisi kesehatan masyarakat Ngabila Salama mengingatkan bahwa tumpukan sampah bukan hanya persoalan kebersihan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Menurut dia, sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sumber penyakit, pencemaran lingkungan, serta menurunkan kualitas hidup warga di sekitarnya.
Ngabila menjelaskan, tumpukan sampah berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya berbagai vektor penyakit seperti lalat, tikus, nyamuk, dan kecoa. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit infeksi, mulai dari diare, disentri, tifoid, kolera, leptospirosis, hingga demam berdarah dengue (DBD). “Kelompok yang paling rentan adalah bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit kronis,” kata Ngabila.
Selain itu, proses pembusukan sampah menghasilkan berbagai gas seperti hidrogen sulfida, metana, dan amonia yang dapat mengganggu kesehatan pernapasan. Paparan gas tersebut berisiko menyebabkan batuk, sesak napas, iritasi tenggorokan, memperburuk asma, hingga meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
Menurut Ngabila, risiko gangguan pernapasan akan semakin tinggi apabila terjadi pembakaran sampah secara terbuka. Asap hasil pembakaran dapat memperburuk kualitas udara dan membahayakan kesehatan masyarakat sekitar.
Ia juga mengingatkan adanya risiko penyakit kulit akibat kontak dengan lingkungan yang tercemar sampah. Beberapa gangguan yang dapat muncul antara lain dermatitis kontak, gatal-gatal, infeksi jamur, dan infeksi bakteri pada kulit.
Tak hanya itu, pencemaran air dan makanan akibat sampah juga dapat memicu gangguan saluran cerna. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan diare akut, muntah, keracunan makanan, hingga hepatitis A.
Ngabila menambahkan, dampak tumpukan sampah tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi kesehatan mental masyarakat. Bau menyengat, lingkungan kumuh, dan kekhawatiran terhadap risiko penyakit dapat memicu stres, gangguan tidur, kecemasan, serta menurunkan kualitas hidup warga.
Dari sisi lingkungan, cairan lindi yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah berpotensi mencemari sumur warga, sungai, dan air tanah. Sementara itu, gas hasil pembusukan dan asap pembakaran sampah dapat memperburuk kualitas udara, sedangkan akumulasi bahan kimia dan logam berat berisiko mencemari tanah dalam jangka panjang.
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Ngabila mengimbau masyarakat menjaga kebersihan rumah, menggunakan air bersih yang aman, mengendalikan vektor penyakit, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Ia juga mengingatkan pentingnya mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal.
Di sisi lain, Ngabila menilai pemerintah perlu memperkuat upaya mitigasi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Langkah tersebut meliputi peningkatan frekuensi pengangkutan sampah, penyediaan air bersih, pemeriksaan kesehatan kelompok rentan, pengembangan bank sampah dan TPS 3R, hingga pemantauan kualitas udara dan air secara berkala.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus waspada. Risiko kesehatan akibat tumpukan sampah dapat diminimalkan melalui perilaku hidup bersih dan sehat, pengendalian vektor penyakit, penggunaan air bersih yang aman, serta pengelolaan sampah yang baik oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama,” ujar Ngabila.
Ia menegaskan bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik bukan hanya masalah lingkungan. Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat menjadi sumber berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....