Stop Doomscrolling untuk Lindungi Kesehatan Mental
- 20 Mei 2026 15:20 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Era digital saat ini, istilah doomscrolling menjadi fenomena yang banyak dialami masyarakat modern. Doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir berita negatif di media sosial atau portal berita secara berulang-ulang.
Fenomena ini membuat banyak orang merasa sulit berhenti meski menyadari dampaknya buruk bagi kesehatan mental mereka. Kebiasaan ini menimbulkan kecemasan, stres, dan gangguan emosional karena konten negatif seringkali memicu reaksi psikologis intens.
Menurut penelitian American Psychological Association (APA), algoritma media sosial menampilkan konten emosional agar pengguna tetap aktif berinteraksi. Konten negatif memicu respon dopamin di otak, sehingga orang merasa tertarik mencari lebih banyak informasi berisiko tinggi.
Sementara itu, socalmentalhealth.com menyebut rasa ingin selalu mengetahui “apa yang terjadi” menjadi pemicu doomscrolling kuat. Kecenderungan manusia mencari informasi potensi bahaya merupakan insting bertahan hidup, sehingga kebiasaan ini sulit dihentikan.
Dampak doomscrolling cukup signifikan dan berjangka panjang, termasuk meningkatnya stres, kecemasan, dan potensi depresi serius. Selain itu, kebiasaan ini mengganggu tidur, menurunkan konsentrasi, produktivitas, dan kesehatan fisik secara keseluruhan bagi pengguna.
Untuk mengurangi doomscrolling, batasi waktu penggunaan media sosial menggunakan fitur screen time atau alarm pengingat harian. Selektif memilih sumber berita terpercaya dan mengganti aktivitas dengan membaca buku, olahraga, atau meditasi sangat membantu fokus mental.
Kesadaran dan strategi pengendalian diri menjadi kunci agar penggunaan media digital tetap sehat, produktif, dan tidak menimbulkan stres berlebihan. Doomscrolling mencerminkan tantangan manusia modern menghadapi banjir informasi, sehingga pengaturan waktu dan konten sangat penting diterapkan setiap hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....