Kelor Dinilai Potensial Dukung Gizi Presisi Nasional Indonesia

  • 17 Mei 2026 15:14 WIB
  •  Nunukan

RRI.CO.ID, Nunukan - Di tengah berkembangnya pembahasan mengenai omics, artificial intelligence (AI), dan genom dalam dunia kesehatan, Indonesia dinilai memiliki kekuatan besar dari pangan lokal yang lebih dekat dengan masyarakat. Dalam artikel “Nutrisi Presisi, Indonesia Jaya” dari Kementerian Kesehatan RI, tanaman kelor atau Moringa oleifera disebut sebagai salah satu sumber pangan lokal padat nutrisi yang berpotensi mendukung perbaikan gizi masyarakat.

Daun kelor diketahui mengandung berbagai nutrisi penting seperti zat besi, kalsium, vitamin A, dan vitamin C. Selain itu, kelor juga kaya senyawa fitokimia seperti polifenol dan flavonoid yang memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi. Kandungan tersebut dinilai berpotensi membantu tubuh melawan stres oksidatif dan peradangan tingkat rendah yang sering berkaitan dengan masalah gizi buruk maupun penyakit metabolik.

Kementerian Kesehatan RI menyebut kelor kerap masuk dalam pembahasan pencegahan stunting dan penyakit tidak menular. Hal ini karena stunting tidak hanya disebabkan kurangnya asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi kekurangan mikronutrien, infeksi berulang, rendahnya kualitas pola makan, dan proses pemulihan biologis yang kurang optimal. Sementara itu, penyakit tidak menular berkembang perlahan akibat pola makan tidak sehat, inflamasi kronis, dan gangguan metabolisme dalam jangka panjang.

Meski demikian, Kemenkes mengingatkan bahwa narasi “superfood” terhadap kelor tidak boleh membuat pendekatan ilmiah berubah menjadi sekadar promosi. Produk kelor dinilai tetap membutuhkan standardisasi yang ketat, mulai dari asal bahan baku, proses panen, pengeringan, hingga konsistensi kandungan nutrisi. Selain itu, pengawasan terhadap risiko kontaminasi mikroba, logam berat, maupun pestisida juga perlu diperhatikan agar kualitas produk tetap terjaga.

Tahap berikutnya yang dianggap penting adalah evaluasi keamanan jangka panjang dan penelitian klinis yang terukur. Kelor perlu diperlakukan sebagai intervensi berbasis bukti, bukan sekadar bahan tambahan pangan. Pemerintah dan peneliti perlu mengetahui dosis yang tepat, kelompok masyarakat yang paling diuntungkan, hingga indikator keberhasilan yang jelas seperti penurunan anemia, perbaikan pertumbuhan, peningkatan nafsu makan, dan penurunan kejadian infeksi. Dengan evaluasi yang kuat, kelor dinilai berpeluang menjadi bagian penting dalam kebijakan gizi nasional berbasis pangan lokal. ( Sumber : Kemkes Ri )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....