Hantavirus Sudah Lama Ada di Indonesia

  • 13 Mei 2026 07:46 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Ramainya pemberitaan tentang Hantavirus membuat banyak orang mengira virus ini baru muncul di Indonesia. Padahal, Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa Hantavirus sebenarnya sudah ditemukan di Indonesia sejak puluhan tahun lalu. Kasusnya hanya jarang terdeteksi karena gejalanya mirip penyakit lain seperti leptospirosis, demam berdarah, hingga flu berat.

Berbeda dengan virus Andes yang sempat menjadi perhatian dunia karena bisa menular antarmanusia, kasus Hantavirus di Indonesia sejauh ini didominasi oleh varian Seoul Virus. Kemenkes menegaskan bahwa kasus di Indonesia masih berasal dari penularan hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Jenis yang ditemukan adalah HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), yaitu tipe yang menyerang pembuluh darah dan ginjal.

Data terbaru Kemenkes mencatat terdapat 23 kasus Hantavirus di Indonesia selama periode 2024–2026 dengan tiga kematian. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Barat, Banten, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi wilayah dengan laporan kasus terbanyak sejauh ini.

Menariknya, pemerintah belum membuka secara detail nama seluruh rumah sakit tempat pasien dirawat. Namun, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengonfirmasi bahwa pasien Hantavirus dirawat di ruang isolasi rumah sakit khusus penyakit menular. Dari empat kasus di Jakarta tahun 2026, tiga pasien telah sembuh dan satu lainnya masih menjalani perawatan serta observasi lanjutan. Pemerintah juga telah menyiapkan 21 rumah sakit sentinel di 20 provinsi serta 198 rumah sakit jejaring pengampuan infeksi emerging untuk mengantisipasi lonjakan kasus.

Yang jarang dibahas media adalah fakta bahwa Seoul Virus justru sangat dekat dengan kehidupan perkotaan. Virus ini banyak ditemukan pada tikus kota yang hidup di saluran air, pasar tradisional, gudang makanan, hingga kawasan permukiman padat. Artinya, ancaman terbesar bukan berasal dari luar negeri, melainkan dari lingkungan sekitar yang selama ini dianggap biasa. Kondisi sanitasi buruk dan meningkatnya populasi tikus di kota besar membuat potensi paparan menjadi semakin tinggi.

Munculnya kembali pembahasan Hantavirus menjadi pengingat bahwa ancaman zoonosis di Indonesia sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Setelah pandemi COVID-19, masyarakat mulai lebih sensitif terhadap isu virus baru. Namun Hantavirus berbeda: virus ini sudah lama ada di Indonesia dan bergerak perlahan tanpa banyak perhatian publik. Karena gejalanya sering menyerupai penyakit umum lainnya, bukan tidak mungkin jumlah kasus sebenarnya lebih besar daripada yang selama ini terdeteksi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....