Quiet Quitting: Bekerja Tak Lagi Harus Mengorbankan Diri

  • 23 Apr 2026 21:25 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Di tengah ritme kerja yang semakin cepat, muncul satu istilah yang ramai dibicarakan di TikTok: quiet quitting. Bukan tentang berhenti dari pekerjaan, melainkan tentang berhenti “memberi lebih” secara berlebihan. Ini adalah cara baru sebagian orang untuk bertahan di tengah tekanan kerja yang terus meningkat.

Quiet quitting terjadi ketika seseorang memilih untuk bekerja sesuai dengan deskripsi tugasnya saja. Tidak lagi mengambil lembur tanpa alasan jelas, tidak membalas pesan di luar jam kerja, dan tidak memaksakan diri untuk selalu terlihat produktif. Bagi sebagian orang, ini bukan bentuk kemalasan, melainkan upaya menjaga keseimbangan hidup.

Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Banyak pekerja mengalami kelelahan mental atau burnout akibat ekspektasi kerja yang tinggi, namun tidak diimbangi dengan apresiasi yang setara. Dalam kondisi seperti ini, quiet quitting menjadi semacam “rem darurat” agar seseorang tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah tuntutan pekerjaan.

Di sisi lain, tidak semua pihak melihat fenomena ini secara positif. Beberapa perusahaan menganggap quiet quitting sebagai tanda menurunnya loyalitas dan inisiatif kerja. Namun bagi pekerja, ini justru bentuk kesadaran baru bahwa kesehatan mental dan batas pribadi sama pentingnya dengan pencapaian profesional.

Pada akhirnya, quiet quitting membuka percakapan yang lebih luas tentang budaya kerja. Apakah produktivitas harus selalu diukur dari seberapa banyak waktu dan energi yang dikorbankan? Atau sudah saatnya kita membangun sistem kerja yang lebih manusiawi, di mana bekerja bukan berarti kehilangan kendali atas hidup sendiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....