Inovasi Daur Ulang Aspal Jadi Solusi Infrastruktur yang Lebih Berkelanjutan

  • 23 Jun 2026 17:25 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Pemanfaatan kembali material aspal bekas dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mewujudkan pembangunan infrastruktur yang lebih berkelanjutan. Selain mengurangi limbah konstruksi, teknologi daur ulang material jalan juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dalam pembangunan maupun pemeliharaan jalan.

Guru Besar Departemen Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Prof. M. Agung Wibowo mengatakan, perkembangan teknologi konstruksi jalan saat ini memungkinkan material dari jalan lama diolah kembali untuk digunakan pada proyek infrastruktur berikutnya. Inovasi tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi yang terus berkembang di sektor konstruksi.

Menurut Prof. Agung, material dari lapisan atas jalan yang sudah tidak digunakan dapat diambil dan diproses kembali sehingga masih memiliki nilai guna. Material hasil olahan tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk mendukung pekerjaan pemeliharaan maupun pembangunan jalan.

"Jalan yang lama itu diambil lapisan atasnya. Kemudian kita olah sehingga di lapisan atasnya bisa kita manfaatkan kembali untuk pemeliharaan jalan berikutnya," kata Prof. Agung dalam Dialog Semarang Menyapa RRI Semarang, Selasa, 23 Juni 2026.

Ia menjelaskan, konsep tersebut merupakan bagian dari penerapan teknologi daur ulang atau reuse material konstruksi. Meskipun kualitas material mengalami sedikit penurunan dibandingkan material baru, hasil olahan tetap dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu dalam struktur jalan.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat membantu mengurangi kebutuhan material baru sekaligus menekan limbah konstruksi."Itu adalah bagaimana kita melakukan semacam reverse logistic, artinya material yang lama bisa kita reuse lagi," ujarnya.

Selain teknologi daur ulang aspal, perkembangan juga terjadi pada material perkerasan jalan lainnya. Saat ini, berbagai inovasi terus dikembangkan untuk meningkatkan kualitas konstruksi sekaligus mempercepat proses pembangunan infrastruktur.

Prof. Agung menuturkan, salah satu inovasi yang banyak digunakan adalah pemanfaatan bahan tambahan atau superplasticizer pada beton. Teknologi tersebut memungkinkan beton mencapai kekuatan yang dibutuhkan dalam waktu lebih singkat dibandingkan metode konvensional.

"Beton itu sekarang banyak sekali perkembangannya. Ada yang menggunakan superplasticizer untuk mempercepat proses beton mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan," katanya.

Inovasi lain yang juga berkembang adalah pemanfaatan fly ash dan bottom ash atau residu pembakaran batu bara untuk memperkuat lapisan tanah dasar jalan. Material tersebut dinilai memiliki potensi untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Selain itu, penggunaan komponen pracetak seperti box culvert juga dinilai mampu mempercepat proses pembangunan dan meningkatkan kualitas pekerjaan konstruksi. Meski teknologi terus berkembang, Prof. Agung menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan infrastruktur tidak hanya bergantung pada inovasi material.

Menurutnya, pemeliharaan yang baik serta partisipasi masyarakat dalam menjaga jalan tetap menjadi faktor penting agar usia layanan infrastruktur dapat bertahan lebih lama. "Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan partisipasi masyarakat yang juga mau memelihara jalan itu," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....